Berkendara Aman di Kala Hujan

Sore tadi saya bersama keluarga pulang ke Jakarta dari menjenguk orang tua di Bogor. Sepanjang perjalanan kami ditemani hujan yang deras. Otomatis mayoritas kendaraan memelankan laju dan menjaga jarak aman lebih panjang dari biasanya.

Namun hujan barusan lumayan mengganggu pandangan saat melihat ke spion. Kalau jaman dulu, mobil-mobil biasanya langsung menyalakan lampu hazard untuk membantu visibilitas. Cara ini sebetulnya salah, karena lampu hazard diperuntukkan saat kondisi darurat.

Untungnya sekarang banyak pengemudi mobil sudah lebih tinggi pengetahuannya. Hampir semua mobil tadi sore di tol Jagorawi menyalakan lampu kecil, DRL, fog lamp, hingga lampu besar. Beruntungnya saya karena visibilitas semua kendaraan jadi lebih jelas, bahkan di kaca spion yang sangat buram karena tertutup embun dan butiran air.

Ngga perlu kelap kelip, udah kelihatan kok

Saya juga berusaha menjaga jarak lebih panjang, karena terbukti sangat membantu saat pengereman. Awalnya sempat kaget juga waktu saya ngeh kalau rem mobil saya terasa kurang ngigit. “Koq panjang banget ini ngeremnya?” Tapi lama-lama jadi terbiasa dengan jarak yang harus dijaga. Jadinya ya memang harus ekstra sabar, jangan sampai terpancing emosi. Setiap ada yang bikin emosi, saya buru-buru mendinginkan kepala dengan memfokuskan tujuan untuk pulang dengan aman dan selamat. Apalagi bawa anak & istri.

Ada satu bahaya yang bikin saya sport jantung. Di jalan tol menuju Rawamangun, banyak terjadi genangan air mirip banjir. Awalnya saya di jalur paling kanan. Saat melibas genangan, saya tidak merasakan efek apa-apa selain ada sedikit hambatan. “Mirip kayak di motor,” pikir saya. Lalu saya bergerak perlahan untuk pindah ke jalur paling kiri, siap-siap turun di exit gate. Di jalur kiri ini saya ketemu dengan genangan air yang membuat saya ngeri.

Hydroplaning atau aquaplaning

Terios saya kehilangan traksi. Posisi mobil seperti perahu yang terombang-ambing. Nyali saya ngedrop saat sadar saya kehilangan kontrol kendaraan. Reflek saya hanya melepas gas kemudian menginjak rem sedikit-sedikit sambil mencoba merasakan adanya traksi ban kembali. Setir saya pegang lurus, tidak berani saya memutarnya. 3 detik kemudian, traksi ban terasa kembali. Perasaan lega perlahan mengisi dada saya.

Kejadiannya memang sebentar, hanya dalam hitungan detik. Tapi rasa ngerinya masih bisa teringat sampai saat ini. Entah apa jadinya kalau tadi saya panik dan berusaha memutar setir. Mungkin saya bisa celaka. Ke depannya saya akan berusaha lebih hati-hati menghadapi genangan air di saat hujan. Mungkin saya harus kurangi kecepatan terlebih dulu sebelum memasuki genangan.

Pengalaman ini mudah-mudahan bisa menjadi pengingat bagi Anda juga untuk waspada saat melintasi genangan air, terutama di jalan tol. Salam defensive driving!

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s