Pilah-Pilih Upgrade Kamera

Sekian tahun yang lalu, saya sama istri kepingin banget beli kamera yang bagus. Gara-garanya pas bulan madu, kami dipinjami kamera pocket Sony Cybershot (lupa tipenya) punyanya mertua. Kami cukup suka dengan hasil fotonya. Kami pun memutuskan untuk beli kamera sendiri. Setelah coba nyari-nyari info di internet dengan cukup intensif, akhirnya kami putuskan untuk beli Canon S90, sebuah kamera pocket yang cukup bagus ratingnya dan punya mode manual layaknya DSLR. Lumayan jadi bisa belajar motret rada serius dikit. Kalau cuma jeprat jepret aja mah pakai hape aja udah cukup.

Penampakan Canon S90. Gambarnya minjem punya Letsgodigital.org

Sekian tahun berlalu, sekarang kami sudah punya buntut. Kebetulan pas lagi lucu-lucunya menuju bandel-bandelnya. Ada aja kelakuan ajaib yang pingin saya abadikan. Kalau istri sih kepingin iPhone 4 aja katanya, “ngga usah yang terbaru yang penting kameranya lebih bagus dari android aku”. Boleh…

Kalau saya malah kepinginnya upgrade si S90. Soalnya meski masih bisa menghasilkan foto-foto bagus, sayangnya sudah mulai terasa lelet untuk dipakai motret anak. Shutter speed udah dicepetin (mode Tv), masih juga ngga cukup. Kalau nggak fotonya yang bintik, ngejar fokusnya jadi lelet. Padahal lensa udah di paling wide biar diafragmanya bisa terbuka gede (f2.0).

Setelah diskusi sama istri, akhirnya kami sepakat untuk cari-cari info pilihan terbaik dulu sambil ngumpulin uangnya. Pilihannya mulai dari yang pocket juga, prosumer, sampai ke mirrorless. Dulu sempat kepingin DSLR, tapi setelah dipikir-pikir kayanya ribet ya. Saya sih males bawa tas gede khusus kamera. Lain cerita kalo saya niat motret sebagai mata pencaharian utama, baru deh invest di DSLR.

Kriteria pilihan kami adalah ukurannya harus compact dan kalau ada touch to focus akan lebih baik. Saya tambahin juga fitur yang nice to have: tilting screen dan wireless connection. Meski ada kriteria-kriteria ini, kami nggak mau ngoyo dan tetap mengutamakan rasa suka dengan hasil fotonya. Jadi pilihannya apa aja? ini dia listnya berdasarkan merek pabrikannya ya biar gampang bacanya.

  1. Sony. Di list kami ada pocket RX 100 Mk.III, cuma kami ragu karena “upgrade kok ke pocket lagi ya?”. Lalu ada mirrorless A6000 yang punya titik fokus super banyak dan autofokus paling cepat di kelasnya saat ini. Tapi… ngga ada touch screen. Waduh, repot banget kalo mau cepat ganti lokasi titik fokus. Dua-duanya belum pernah hands on, jadi impresi masih sebatas perkiraan aja.
  2. Canon. Ada S120 di list kami, adiknya S90. Yang ini udah hands on, performa jelas jauh di atas S90 plus udah touch screen. Tapi ya itu dia… “kok pocket lagi sih?”. Hehe… Lalu sempat hands on juga G1X Mk.II yang memang dari jaman baru kenal G12 kamera seri ini keren banget performa dan hasilnya. Tapi ya kok berat dan agak gede ya? Jadi ragu. Terakhir dari pabrikan ini, sempat ngarep sama EOS M2 yang punya autofokus lebih bagus dari pendahulunya (berdasarkan video YouTube ini). Tapi di salah satu situs berita kabarnya tipe ini ngga akan dijual di Indonesia. Yo wes batal deh beli Canon.
  3. Olympus. Dari dulu naksir mirrorless Olympus bukan karena desain retronya, tapi karena gesitnya. Autofokus cepat, shutter lag minim, kayak baru mencet tombol shutter dikit, tau-tau “TIDIT! JEPRET!”. Hohoho… Mantap banget gesitnya. Di list kami ada E-PL6 yang harganya lumayan bersahabat dan OM-D EM-10. Seri yang terakhir saya sebut ini emang dari dulu udah ganteng designnya. Kebetulan EM-10 yang paling affordable di seri ini dan banyak fitur yang dipangkas. Tapi secara basic, dua Olympus ini sebetulnya udah cukup: lensa banyak dan relatif affordable, ada touch screen, ada wifi, dan EM-10 ada viewfinder. Sayangnya istri kurang suka sama warna hasil fotonya. Namanya selera pasti subjektif, tapi karena yang pakai kameranya bakalan berdua, jadi ngalah dulu deh.
  4. Panasonic. Temennya Olympus di dunia kamera bersensor MFT, lensanya juga bisa tukar-tukaran. Pabrikan ini paling banyak ngasih pilihan. Kali ini, Panasonic cukup menggoda dengan berbagai pilihan mirroless-nya. Pertama ada GM1 yang mana istri saya dan partner di blognya pernah diundang dan hadir ke acara launchingnya di Singapore. GM1 ini kebetulan saya juga pernah hands on sedikit, Secara ukuran, surprisingly kecil kayak kamera pocket. Cuma saya jadi ilfeel pas ngelihat dial putarnya di samping screen. Buat saya yang suka rada kasar sama barang, dial ini kayaknya ringkih. Lalu saya ngelirik GF6, yang kelihatannya cukup oke dengan harga yang relatif bersahabat. Yang ini belum hands on, tapi pas lihat foto dial di belakangnya, “lho kok mirip GM1?”. Ya mikir-mikir lagi deh jadinya… Pilihan terakhir dari Panasonic yang paling kurang ajar adalah GX7. Saya terus terang suka sama warnanya (antara Canon dan Nikon) dan hampir semua review bilang “ini dia Panasonic yang ditunggu-tunggu”. Pokoknya bikin kepingin banget deh. Saya juga sempat hands on sedikit, dan yang paling teringat adalah bodynya agak berat tapi nggak masalah. Pas lihat harganya, saya langsung manyun. Soalnya body only aja udah di luar budget. Hiks…
  5. Fuji. Kalau dengar merek yang satu ini, berasa balik ke jaman kamera film. Tapi akhir-akhir ini Fuji cukup bagus penerimaannya di kalangan fotografer, khususnya karena hasil fotonya punya warna yang Fuji banget. Saya dan istri termasuk yang suka dengan warna hasil fotonya. Beruntung Fuji ngeluarin dua kamera mirrorless baru dari seri Fuji X yang harganya relatif affordable. Ada tipe X-A1 yang pakai sensor CMOS dan X-M1 yang sensornya ada teknologi X-Trans. Hasil fotonya sama-sama bagus, cuma beda dikit di detailnya. Kalau dari hasil ngebandingin foto di antar kedua model ini, saya sama istri cenderung ke X-M1. Kebetulan saya sempat hands on dengan X-A1 (sayangnya X-M1 waktu coba ngga ada batrenya). Seingat saya, kamera ini hitungannya ringan dibanding Samsung NX-300 yang berat di lensa dan Nikon 1 AW-1. Bahkan dibanding Olympus E-PM2 yang kecil aja masih lebih ringan X-A1. Secara performa ngga segesit Olympus, kalah jauh kalau kata saya mah. Tapi hitungannya masih relatif cepat dan digenggam di tangan rasanya enak-enak aja. X-M1 kalau gak salah ingat sedikit lebih berat, tapi masih lebih ringan dibanding Olympus E-PM2.

Oke, dari sekian banyak pilihan memang pilihan utama jatuh ke Fuji X-M1 atau X-A1 (tergantung duitnya kekumpul berapa) karena kami suka warna hasilnya. Pilihan kedua, saya sih pingin Panasonic GX7 atau Olympus OMD EM10. Memang sensornya lebih kecil, tapi secara package mereka yang  paling komplit karena ada viewfinder, touch screen, dan wifi. Tapi karena harga keduanya termasuk mepet bahkan di luar budget, ada kemungkinan kami bakal pilih Olympus E-PL6 buat sistem awalnya. Lalu di kemudian hari kami cukup upgrade body kameranya aja. Tapi ya lihat nanti aja jadinya gimana.

Lalu ada kamera apa lagi yang sempat dicoba?

Ada Samsung NX-300 yang secara package termasuk lengkap dan menarik banget. Tapi kami kurang yakin dengan Samsung sebagai produsen kamera. Kalau ke depannya mau upgrade body aja, siapa yang mau beli body seken kami? Lalu lensa kayaknya hanya dibuat oleh Samsung, yang mana saat ini terbatas sekali, mending Sony sekalian (ada pilihan Zeiss).

Saya juga sempat coba Nikon 1 AW-1 yang bisa dibawa menyelam. Terus terang ini kamera rada aneh buat saya karena autofokusnya seperti yang “gerak sendiri”. Maksudnya begini.. Saya coba arahkan ke beberapa objek yang jaraknya berbeda untuk bisa ngetes autofokusnya. Anehnya si lensa seperti yang udah duluan ngelakuin penyesuaian fokus sewaktu saya menggerakkan kamera ke arah lain. Jadi waktu tombol shutter saya pencet sedikit, tau-tau udah fokus. Padahal di kamera lain yang saya coba (dan yang pernah saya coba) nggak pernah ada yang kelakuannya begitu. Benar-benar aneh buat saya.

Apakah Anda punya pengalaman sama, pengalaman berbeda, atau punya opini terkait artikel ini? Silahkan tulis komentar Anda dan mudah-mudahan bisa jadi bahan obrolan buat kita semua :)

2 thoughts on “Pilah-Pilih Upgrade Kamera

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s