Warisan Kamera Analog

Saya tertarik dengan fotografi relatif terlambat. Kebanyakan orang memulai dari jaman masih sekolah atau kuliah, saya malah baru mulai di usia kepala 3. Awalnya gara-gara beli Canon S90 yang mana hasil fotonya menurut saya baguuus banget dibanding kamera saku Sony punya mertua. Kebetulan S90 ini punya mode M atau Manual, jadi saya bisa sedikit-sedikit belajar dasar-dasar fotografi. Mulai dari setingan ISO, aperture, shutter speed, hingga komposisi. Semuanya belajar sendiri dibantu berbagai sumber di internet dan YouTube.

Terlepas dari keinginan untuk upgrade ke kamera mirrorless seperti di artikel saya yang lalu, satu hari orang tua saya nawarin, “Kamu mau ngga kamera-kamera film tapi udah pada tua? Di rumah ada beberapa dan ga keurus”. Saya mengiyakan dengan pertimbangan buat iseng aja. Yang saya ngga nyangka, ternyata mereka punya 3 kamera analog yang kondisinya masih bisa dibilang cukup terawat. Inilah yang bikin saya jadi sedikit lebih bersemangat.

— // —

Pertama, ada kamera Contaflex. Designnya cantik dan vintage banget, lengkap dengan half case orisinil, dan langsung diklaim sama istri saya. :)

Zeiss-Ikon Contaflex. Sumber foto: Collectiblend.com

Menurut penelusuran via Google, Contaflex model ini keluaran tahun 50an. Kakek tiri saya beli di Jerman dan seperti halnya benda-benda berbau Jerman, designnya kokoh sekali. Lensanya prime, dengan pengaturan shutter, aperture dan fokus ada pada “ring bergerigi” di lensanya. Ada satu tuas yang sudah macet dan saya nggak tau untuk apa, jadi saya abaikan. Lalu katanya bisa ganti-ganti bagian depan dari lensa, tapi saya ngga nemu harus pencet di mana, jadi saya abaikan juga daripada rusak.

Cara membuka kompartemen filmnya cukup mudah dan unik, karena mekanisme pembukanya tidak seperti pintu melainkan ditarik ke bawah hingga terlepas full. Pemasangan film agak susah karena mekanisme pemutar dan kaitnya agak berbeda dengan kamera analog yang lebih modern.

Kompertemen film yang unik.

Yang cukup unik, Contaflex ini ada analog light meter di bagian atas kiri. Supaya berfungsi, kita harus buka dulu tingkap jendela light meter di sisi depannya. Hasil bacanya akan terlihat di bagain atas, bentuknya seperti water pass. Lalu kita set angka ASA sesuai dengan film yang kita pasang. Di roda ASA ini (sisi dalam) juga tertera angka-angka aperture yang akan bergeser seiring perubahan angka ASA. Setelahnya kita putar roda sisi luar untuk menyesuaikan penanda lingkaran di ‘water pass’ agar sesuai dengan penanda garis light meter. Ketika kedua penanda sudah sejajar, anggapannya kita sudah berada di exposure yang tepat. Kembali ke roda ASA, kita juga akan melihat saran untuk menggunakan shutter speed berapa untuk angka aperture tertentu. Entah hasilnya akurat atau nggak, tapi analog light meter ini memberikan pengalaman yang unik waktu saya motret pakai Contaflex ini.

Analog light meter

Untuk pengalaman saat memotret pakai Contaflex, terus terang kamera ini paling susah di antara 3 kamera analog yang dikasih ke saya. Dalam artian susah ngatur fokus (tipis), terbatas banget karena fokal lensa 45mm terasa agak tanggung buat saya, mengatur setingan perlu bolak balik lihat fisiknya, dan kamera ini berat banget.

Saya sempat coba motret pakai film Superia 200. Ternyata informasi jumlah exposure yang sudah terpakai ternyata harus diset manual di awal dan saya nggak melakukan itu. Terpaksa harus ingat-ingat sudah berapa kali jepret. Tapi satu hal yang bikin saya bete adalah saya baru ngeh belakangan kayaknya shutter kamera ini sudah rusak. Saya set ke 250 maupun ke B, suara bukaannya tetap sama. Saya coba roll balik filmnya, nah lho, kok nyangkut?! Akhirnya saya putuskan untuk menjepret 3 – 4 frame asal-asalan, kemudian saya paksa roll balik sampai mentok, lalu saya buka kompartemen filmnya. Ternyata benar, mekanisme kaitnya justru membuat sulit untuk melepas film, terpaksa saya tarik sampai robek bolongan di filmnya.

Kesimpulannya, saya paling nggak suka pakai kamera ini karena pengoperasian yang nggak menyenangkan dan fungsi yang rusak. Meski begitu, tampilannya cantik sekali. Roll filmnya tetap akan saya coba untuk cuci, kalau ternyata ada hasilnya saya akan minta scan juga.

— // —

Kamera kedua adalah Chinon CS. Menurut penelusuran via Google, Chinon ini adalah merek dari Jepang yang lahir tahun 1948 dan tahun 1997 dibeli sama Kodak.

Chinon CS.

Mungkin inilah kamera paling mulus di antara 3 kamera analog yang dikasih ke saya karena kondisi fisiknya relatif baik dan fungsinya masih oke meski saya belum nemu baterainya. Dan ternyata hoki banget kamera tua begini nggak sengaja bisa langsung punya 3 lensa: lensa prime Chinon 50mm bawaan, lensa wide Supra Magenta 28mm dari lemari ayah saya, dan lensa zoom Vivitar 75 – 205mm (kalo ga salah) yang dikasih sama kakak ipar saya.

Tiga kekurangan yang saya rasakan di Chinon CS ini yang pertama udah jelas berat banget, apalagi kalau dipasang si Vivitar. Kedua adalah penggunaan mount jenis M42 (model putar kayak sekrup) dari Pentax yang kayaknya jenis yang umum dipake jaman dulu. Lumayan repot kalau mau ganti-ganti lensa. Ketiga, dan yang paling ganggu, viewfindernya kotor banget dan kotorannya ada di bagian dalam. Saya ngga berani bongkar, jadi sementara ini saya harus berkompromi dulu.

Vivitar 75-205mm dengan fitur close zoom (kayaknya 10cm)

Chinon CS ini ngga ada fitur aneh-aneh. Sudah saya coba pakai motret 1 roll Fuji Superia 200 isi 36, tapi saya masih nyari tempat cuci dan scan yang mudah dijangkau dari rumah. Yang terpenting dari 1 roll film ini adalah untuk ngetes apakah masih bisa dipakai ngambil gambar. Sebab bisa aja karena satu dan lain hal, setelah dicuci ternyata filmnya nggak ada yang jadi. :)

— // —

Kamera terakhir di list ini adalah Nikon FE2. Kamera ini jauh lebih modern dari kedua kamera di atas. Kondisinya paling terawat di antara ketiganya. Designnya cakep banget, two tone hitam dan silver.

Nikon FE2

Kamera inilah yang paling saya suka modelnya dan saya paling kepingin pakai. Sayangnya justru kamera inilah yang belum bisa dipakai. Mirror-nya nyangkut di atas, ngga mau balik lagi ke posisi normal. Dari beberapa metode DIY fix di internet, yang paling bisa mendeteksi problem di kamera ini adalah ketika plat bawahnya dibuka akan terlihat mekanisme pengunci yang mencegah film terkokang dobel bekerja tapi kemudian seperti nyangkut. Ternyata tuas yang harusnya bergerak membuka pengunci inilah yang suka nyangkut.

No.1 pada gambar. Tuas pengunci supaya film ngga terkokang 2x. Di sebelah kiri no.2 ada tuas pembuka pengunci. Tuas ini yang suka nyangkut.

Yang membingungkan adalah ketika saya coba untuk jepret dalam keadaan terbalik (upside down), kemungkinan nyangkutnya relatif jauh berkurang. Tapi ketika dicoba di posisi normal, seketika itu juga mekaniknya nyangkut lagi. Saat ini saya biarkan dulu kameranya sambil cari-cari lagi DIY fix di internet.

Tuas ini seharusnya ngebuka pengunci setelah shutter ditekan, tapi tuas ini hampir pasti nyangkut di posisi normal.

Kalau ada yang tahu toko servis kamera analog yang terpercaya di Jakarta, tolong kasih tau saya di comment ya. Soalnya saya paling kepingin banget nyoba kamera yang ini. Terima kasih. :)

— // —

UPDATE: Hasil cuci dan scan filmnya sudah bisa dilihat di artikel ini.

5 thoughts on “Warisan Kamera Analog

  1. mau nanya dong kak.. kan bapa saya punya kamera analog, nah saya mau blajar makenya tapi kta bpa saya tempat yg buat naro filmnya muter mulu.. itu bisa di benerin sendiri?? atau di benerin di tukang service.. makasih kak

  2. Lagi keracunan juga main kamera analog saya. Sedih juga baru kenal fotografi ga dulu-dulu, tapi setelah baca pos ini jadi ga ngerasa terlalu terlambat buat belajar.

    Ngiler sama Nikon FE-nya, lagi nyari body Nikon soalnya. Buat di Jakarta katanya ada di Pasar Baru.

    Ah andai saja dapat warisan juga, kameranya kalau bisa Leica lah. :D

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s