Ban Tubeless Untuk Motor

Ilustrasi ban tubeless. Sumber foto: otomotif.kompas.com

Terakhir jatuh dari motor itu sudah lama sekali. Bahkan saya sampai lupa persisnya di mana dan kejadiannya seperti apa. Tapi hari Kamis kemarin akhirnya saya jatuh lagi dari motor. Penyebabnya: ban tubeless.

Sudah setahun lebih, di motor saya terpasang ban tubeless untuk depan dan belakang. Selama ini tidak ada masalah, kalau pun kena ranjau masih mudah ditambalnya. Mengisi angin pun mudah karena banyak SPBU Shell yang menyediakan isi angin gratis di rute perjalanan harian saya. Ban tubeless jelas sangat bermanfaat buat saya. Sayangnya justru saya jadi keenakan dan lalai dalam perawatan ban.

Begini ceritanya.. Hari itu saya pulang kerja lembur jam 2 pagi. Perjalanan dari kantor ke rumah kurang lebih cuma 30 menit, sebuah jarak yang relatif terbilang dekat. Saya bawa motor relatif pelan, paling kencang di 50 kpj. Mata sudah ngantuk tapi masih bisa ditahan, namun saya merasa harus ekstra hati-hati.

Ilustrasi pulang kerja lembur naik motor. Sumber foto: mpm-motor.co.id

Saat sudah dekat dengan lokasi rumah, saya harus membelok agak tajam di tikungan. Kurang lebih 100 meter setelahnya, saya memelankan laju motor untuk mengambil putaran balik. Tiba-tiba saya hilang kontrol tepat saat memutar balik. BRAAKK!!

Seumur-umur bawa motor baru kali ini merasakan bingung harus bereaksi seperti apa, padahal sadar bahwa motor sudah tidak bisa dikendalikan. Pikiran dan badan (muscle memory) sudah mengatakan bahwa gerakan ini akan membawa motor memutar balik dengan aman. Tapi beban motor malah membuang ke arah kiri karena ada yang salah dengan roda depan yang terasa oleng. Kedua rem jadi tidak berfungsi. Aneh sekali rasanya.

Setelahnya saya cek kondisi motor. Ban depan ternyata kempes total. Makin aneh karena 100m sebelumnya saya melewati tikungan yang lebih berbahaya tapi tidak ada masalah. Juga tidak ada ranjau yang menempel baik di bidang tapak maupun samping. Besoknya saya bawa ke bengkel ban tedekat sekalian konsultasi mengenai masalah yang saya alami.

Ternyata penyebabnya adalah tekanan angin yang terlalu minim bikin jadi mudah terjadi celah terbuka antara dinding ban tubeless dan velg. Ketika terjadi celah, sama aja kayak kita ngempesin ban lewat pentil, cuma yang ini lubangnya gede. Setelah kejadian ini akhirnya saya memilih untuk pasang ban dalam aja untuk depan. Yang tubeless cukup ban belakang. Secara feeling berkendara memang jadi kurang asik, tapi safety first aja deh.

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s