Pilah-Pilih Kamera – Part 2


Di artikel sebelumnya, saya dan istri sedang menimbang-nimbang upgrade kamera yang terbaik. Sebab kami ngga hanya milih kamera baru tapi lebih kepada berinvestasi di satu sistem kamera. Beruntungnya kami sempat hands on beberapa demo unit dan sepertinya pilihan sudah semakin mengerucut. Kamera mana saja yang masuk di short list kami?

Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, saya sengaja memperbanyak pilihan brand dan tipe kamera mirrorless yang masuk kategori layak dipertimbangkan. Secara garis besar, pilihannya ada Sony, MFT (Olympus & Panasonic), Canon, dan Fujifilm. Masing-masing ada plus minusnya, di mana kami harus sangat berkompromi karena keinginan untuk punya sistem kamera yang ringkas. Pilihan mirrorless menjadi paling mendekati kebutuhan kami karena bisa mengakomodir 3 jenis pengambilan gambar yang sering kami lakukan: portrait, wide, dan travel. Cukup satu body dan tinggal pilih lensa yang sesuai kebutuhan. Maka pilihan kamera compact dan prosumer sudah otomatis kami coret karena dinilai tidak cukup leluasa khususnya saat perlu memotret wide.

Sebelum melangkah lebih jauh, chopping block pertama tentu dari hasil melihat foto sample di beberapa website review kamera terpercaya. Dan yang pertama jadi korban adalah Sony. Meski Sony punya tipe A6000 yang banyak dapat pujian karena performa AF mantap ditambah burst shot sampai 11 fps, tapi istri saya betul-betul ngga suka sama hasil gambarnya. No offense, tapi saya juga ngga begitu sreg sama hasil dari kamera Sony. Kami sepakat bahwa warna yang dihasilkan Sony memang ngga sesuai dengan selera.

Sony A6000. Sumber foto : http://www.fotopolis.pl

Korban berikutnya adalah Canon. Begini permasalahannya. EOS M meski saat ini harganya sudah termasuk yang termurah dan punya paket adaptor yang memungkinkan kita untuk pakai beragam lensa DSLR-nya, ternyata performa AF-nya masih kurang bisa mengakomodir kebutuhan kami. Firmware terbarunya pun masih belum bisa memenuhi ekspektasi kami. Sayang sekali memang karena kami termasuk suka dengan warna yang dihasilkan oleh Canon. Belum lagi kemudahan tersedianya lensa yang sangat beragam yang bisa kami beli, sewa atau pun pinjam punya teman. Sedangkan teman-teman kami kebanyakan adalah pengguna Canon.

Sebetulnya saya menaruh harapan pada Nikon. Untuk DSLR, sebetulnya saya lebih suka Nikon ketimbang Canon karena tingkat ketajaman gambarnya yang sangat memikat. Tapi apa daya sepertinya mereka kurang serius menggarap segmen mirrorless. Jangan salah, menurut saya kamera Nikon 1 mereka bagus, tapi peruntukannya masih terlalu kasual – satu hal yang sangat bisa dilakukan dengan smartphone.

Lalu ada Samsung yang cukup menarik, tapi kami belum yakin dengan track record mereka di dunia kamera yang serius. Memang benar bahwa baru-baru ini mereka menghadirkan kamera NX1 yang banyak mengundang decak kagum di seluruh dunia. Tapi saya melihatnya hanya untuk show off kemampuan teknologi mereka. Intinya, saya butuh lebih diyakinkan lagi untuk memilih sistem ini.

Samsung NX1. Sumber foto: http://www.thecoolist.com

Harapan kami kini tertuju pada Fujifilm dan keluarga MFT (Olympus dan Panasonic). Istri saya sih sudah bilang lebih sreg sama Fuji karena melihat warna-warna dari sample foto yang ada di internet. Namun komprominya justru yang paling besar seandainya kami memilih sistem ini. Pertama, lensa Fuji itu paling mahal di antara semua yang disebutkan di artikel ini. Kedua, kami harus pilih mau flip screen atau viewfinder, karena pembatasan budget. Yang ada dua-duanya harganya jauh di luar budget kami. Oh, dan kami harus merelakan tidak adanya touch screen. Saya memang baru coba hands on tipe X-M1 dan hasilnya cukup memberi gambaran kemampuan sistem Fuji yang boleh lah.

Saya sendiri kepincut OMD-nya Olympus dan GX7-nya Panasonic. Saya menaruh harapan cukup besar di sistem ini karena beragamnya jajaran lensa mereka dan harga lensa-lensanya yang masih masuk akal. Saya cukup terkejut saat mencoba demo unit kedua merek ini. GX7 yang mendapat banyak respon baik dari review-review di internet, ternyata tidak berhasil untuk saya. Saya kurang sreg dengan overall experience saat memotret. Meski performa AF cepat dan shutter sound-nya unik, tapi saya ngga berasa klik dengan kamera ini. Entalah, mungkin karena saya hanya mencoba sangat sebentar di toko dan tidak leluasa untuk mengulik. Apalagi sambil si mbaknya terus nongkrongin. Emangnya saya Sevel?

Kalau harus memilih di sistem MFT, saya lebih sreg dengan Olympus. Experience memotretnya membuat saya berasa lebih klik dengan merek ini. Sepertinya karena faktor build quality yang terasa lebih solid dan performa AF yang cepat dibarengi suara shutter yang memuaskan. Dari segi warna memang biasa aja, tapi dynamic range yang terlihat di area gradasi shadow benar-benar menghibur mata saya. Seperti halnya ketajaman gambar Nikon yang terasa lebih appealing di mata saya dibandingkan warna blooming dari Canon.

Lumix GX7 (kiri) dan Oly OMD EM-5 (kanan). Sumber foto: http://www.ephotozine.com

Setelah melalui pertimbangan panjang, saat ini pilihan terbaik yang saya dan istri bisa sepakati adalah… Fujifilm. Ya, memang komprominya paling banyak dibanding pilihan kamera lainnya. Lensanya mahal, ada flip screen tapi ngga ada view finder (atau sebaliknya), ngga ada touch screen (good bye touch to focus), dan seterusnya. Saya sendiri masih berharap bakal muncul kamera mirrorless Fujifilm yang ada viewfinder dan flip screen, tapi di kisaran harga yang jauh lebih bersahabat. Sementara ini, kami akan terus menabung sambil jeprat-jepret pakai Canon S90 dan Chinon CS analog kami. :)

2 thoughts on “Pilah-Pilih Kamera – Part 2

  1. Saya salah ga baca dulu referensi pas beli kamera. Ceritanya karena dapet hadiah lomba, langsung aja meluncur ke toko kamera. Soalnya kapan lagi punya duit banyak, emang mahasiswa, dan waktu itu si kamera saku Kodak kesayangan udah rusak.
    Karena girang bisa beli kamera dslr dan parahnya ga baca-baca dulu, ya diakalin sama pedagangnya.

    Saya juga kalau bisa mau hijrah ke mirrorless. Saya sih nyari yg rekam videonya juga bagus, Sony NEX. Soalnya banyak adapter lensanya, jadi bisa pake lensa vintage manual. Berhubung sekarang lagi doyan main kamera film.

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s