Newbie Berlari: Ganti Sepatu

image Saya termasuk pelari pemula yang concern dengan postur saya saat berlari demi mencegah cidera. Tapi yang terjadi justru saya malah terlalu fokus ke form daripada larinya sendiri. Jadinya ya cidera lagi di lutut kanan.

Hasil penelusuran saya di internet, penyebab cidera juga bisa dari sepatunya. Kali ini sepatu Reebok saya pun terpaksa pensiun. Wah, pas banget nih momennya. Jadi, ganti sepatu apa? Saya cerita dulu tentang sepatu sebelumnya ya. Reebok saya edisi 2009 atau 2010. Solnya termasuk tebal, khususnya di area midsole. Meski begitu, buat saya kurang empuk dan cenderung agak kaku. Bagusnya sih setiap impact, kaki jadi berasa lebih stabil ngejejak ke tanah. Ngga ada efek ngebuang ke samping dari pronation kaki.

Sayangnya design sepatu ini ternyata sama sekali ngga cocok buat heel striker seperti saya. Kalau dipake jalan kaki sih enak-enak aja. Tapi kalau udah lari, langsung berasa efeknya ke tulang kering dan lutut. Akhirnya mau ga mau harus ubah cara lari ke midfoot to forefoot strike, yang mana bukan cara natural saya dalam berlari.

Saya memutuskan untuk bertahan dulu dengan si Reebok ini sambil mencari cara supaya ngga rentan cidera. Toh sepatunya masih terlihat bagus. Sepertinya Tuhan ngasih saya jalan dengan rusaknya outsole si Reebok ini di kala jogging. Otomatis pensiun lah si Reebok ini dan mulailah saya berpetualang di internet mencari sepatu penggantinya.

Pencerahan pertama datang dari sebuah artikel yang menunjukkan bahwa perubahan angka drop pada sepatu lari ternyata sangat berpengaruh pada rentannya seorang pelari akan cidera kaki. Studi kasus yang diangkat adalah 2 edisi dari merek dan jenis sepatu yang sama, contohnya Nike Free 4.0 ke Nike Free 5.0 (contoh hanya ilustrasi).

Pencerahan kedua datang dari blog seorang pelari di Jakarta. Usianya jauh lebih muda dari saya, tapi pengalaman lari dan racenya jauh di atas saya. Ia menuliskan bahwa lututnya jadi cidera setelah pakai salah satu sepatu Nike. Usut punya usut ternyata design sepatu Nikenya berbeda dengan sepatu yang biasa ia pakai sebelumnya, yang mana cenderung flat. Akhirnya ia ganti sepatunya dan ternyata ia tidak cidera lagi.

Dua artikel tersebut bikin saya jadi mikir, apakah saya harus cari sepatu lari yang cenderung lebih flat karena kebiasaan saya pakai sneakers yang rata-rata relatif flat juga? Sneakers harian saya saat ini adalah New Balance 401, ringan, fleksibel, dan solnya relatif rata. Dibandingkan dengan sol si Reebok sih kaya bumi dan langit bedanya.

Akhirnya saya mulai cari-cari sepatu lari yang solnya cenderung rata. Kebetulan beberapa website punya fitur shoe advisor. Saya coba perhatikan perbedaannya secara fisik dan spesifikasi. Benang merahnya, sol sepatu depan cenderung tipis dan belakang hingga tengah gak terlalu tebal. Tapi sepatu-sepatu tersebut harganya terlalu mahal buat saya. Beli sepatu 1 – 2 juta kalo ga cocok kan nangis.

Saya jadi membuka diri pada merek-merek yang sebelumnya bukan preferensi saya. Dan saya jadi tertarik sama League, merek lokal yang sepertinya cukup serius dalam menggarap brandnya. Kebetulan ada storenya di dekat kantor, jadi mampir deh.

Hasil Googling ngasih tahu bahwa League punya beberapa sepatu lari. Di antaranya yang relatif baru adalah Volans 2, Volans Nocturnal, Zip Run dan Kumo. Kebetulan tokonya agak komplit, jadi bisa coba semua.

Pertama nyobain Volans Nocturnal┬ákarena warnanya paling aman, sedangkan yang lain warnanya lumayan “hore”. Ukuran kaki saya 42. Impresinya saya suka fit di bagian heel, tapi midfoot sampai ujung jari malah kesempitan. Saya coba nomor 43, depan enak tapi belakang malah longgar. Sayang, padahal peredan impact di bagian heelnya cukup enak.

Lalu beralih ke Zip Run. Karakter designnya mirip Reebok. Fit uppernya pas, midfoot dan toe box lega dan nyaman. Tapi saya terganggu sama bagian heelnya. Rasanya terlalu tinggi naik ke achilles. Feel redamnya juga mirip si Reebok.

Lalu saya coba Kumo. Designnya saya suka, lidah sepatunya tipis, dan sistem talinya simple banget. Tapi cobaan pertama justru datang dari susahnya masukin kaki ke dalam sepatu. Penuh perjuangan. Secara fit dan daya redam cukup nyaman di kaki. Cocok untuk kebutuhan saya.

Terakhir saya coba Volans 2. Fitnya pas di bagian heel, midfoot lebih lega daripada Volans Nocturnal, toe box masih antara iya dan tidak. Yang bikin saya suka adalah daya redamnya yang pas dengan cara lari saya. (iya, saya lari2 di dalam toko)

Kini saya terpecah antara Kumo atau Volans 2. Akhirnya saya pakai sebelah-sebelah. Setelah saya coba jalan dan lari, ternyata bedanya cukup tipis. Tapi secara kenyamanan di kaki, Volans 2 menang ke mana-mana. Setidaknya buat kaki saya. image Yup. Bungkus deh. Lumayan 450 ribu. Sayang lagi ngga diskon. Tapi saya senang punya sepatu lari lagi.

Soal durabilitas, sepupu istri saya yang lagi sekolah pilot di Biva ternyata pakai League juga buat olahraga rutinnya. Setiap hari lari 2x, pagi dan sore, dipakai lari bolak balik runway. Sudah 6 bulan lebih dan menurut dia sepatunya masih awet. Cukup menjanjikan.

Saya sendiri first run pakai Volansnya pas di tanggal 1 Januari 2015. Impresi ridenya akan saya tulis di artikel berikutnya ya. :)

One thought on “Newbie Berlari: Ganti Sepatu

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s