Impresi Sepatu Lari: adidas Energy Boost 2 Techfit

adidas Energy Boost 2 Techfit – Earth Green color

Akhir tahun lalu adalah pertama kalinya saya mengenal teknologi Boost di sepatu lari adidas. Berawal dari sebuah artikel tentang bagaimana seorang heel striker (Dennis Kimetto) memecahkan rekor runia lari marathon di Jerman pada 28 September 2014. Setelahnya saya beruntung bisa nyoba sepatu yang dipakai oleh Kimetto, yaitu adidas Adios Boost 2. Singkat cerita, saya jatuh cinta pada sepatu itu.

Hal ini juga yang bikin saya jadi ngefans sama teknologi Boost. Meski akhirnya saya ngerasa ngga semua sepatu Boost itu nyaman dipakai. Salah satu yang nyaman buat saya adalah adidas Energy Boost 2 (EB2) ini, dan setelah saya pakai lari beberapa kali, inilah impresi saya.


IMPRESI PERTAMA SAAT NYOBA DI TOKO

Bahan Techfit-nya saya suka karena bisa melar, jadi ngga bikin jari-jari kaki saya sakit. Materi Boost-nya empuk banget buat meredam heel strike. Saya pikir bakal berguna kalau kaki saya udah mulai capek dan postur lari mulai berantakan. Fit di bagian pergelangan agak longgar kalau lobang tali paling ujung atas ngga dipakai, cocok buat lari santai. Tapi artinya bisa dikencangin juga kalau dirasa perlu. Bahan plastik agak kaku (yang ada logo 3 strip khas adidas) yang jadi penyangga bagian midfoot memang terasa agak ketat, tapi di sisi dalam kaki justru ngasih support untuk arch saya.


IMPRESI LARI HARI KE-1: JALANAN & HUJAN

Ngga bisa dihindari. Hujan. Gatel pingin lari. Ya saya lari begitu hujannya agak reda. Kesana pertama, upper bahan Techfit di EB2 ini gampang banget ditembus air. Kaki bagian depan langsung basah kuyup dan bergeser-geser sedikit di dalam sepatu. Hal ini jadi berasa banget karena sepatu ngga saya tali sampai full, alias setingan lari santai. Bagian tumit juga berasa agak longgar karena sepatunya jadi berat akibat kemasukan air.

Efek berikutnya yang langsung terasa adalah teknik lari saya terpaksa jadi heel strike. Di sini teknologi Boost bener-bener terasa manfaatnya. Setiap heel strike bisa teredam dengan baik, jadinya ngga berasa cenat cenut ke tulang kering, apalagi ke lutut. Kalau saya coba midfoot atau forefoot strike, lagi basah-basah begini rasanya malah aneh. Sebetulnya bisa saya perbaiki kok dengan mengikat ulang tali sepatunya, tapi saya milih untuk nerusin lari karena takut hujannya keburu deras.

Adiwear outsole (sumber foto)

Sepanjang rute, saya melewati aspal dan trotoar. Khusus di trotoar yang agak rusak, kan suka ketemu sama batu atau beton yang nongol. Di sini saya nemuin bahwa outsole Adiwear kurang ngigit kalau ketemu batu dan beton yang basah. Jadi harus lebih hati-hati. Aspal basah masih rada mending meskipun kadang suka sugesti solnya kayak kurang ngigit. Paling aman ya beton kasar kayak konblok karena berpori dan kasar.

Cangkang plastik di upper bagian midfoot ternyata ngga ganggu sama sekali buat saya. Malah saya senang karena rasanya arch kaki saya ada yang support. Tapi buat yang suka bagian upper mid kakinya agak longgar kayaknya sih bakalan rada ganggu atau malah ganggu banget.

Di akhir lari, saat saya masuk ke komplek, tiba-tiba hujan mulai deras lagi. Reflek saya langsung lari secepat mungkin menuju rumah. Tanpa saya sadari, saya baru saja lari cepat dengan heel striking! Anehnya, kaki saya ngga berasa ada yang sakit sama sekali. Saya kasih dua jempol buat Boost-nya adidas ini. Good job!


IMPRESI LARI HARI KE-2: JALANAN KERING

Saya beruntung karena bisa ketemu hari yang cerah di musim hujan ini untuk lari pakai EB2. Kali ini saya ikat tali sepatunya sampai ke lubang paling atas dengan cara yang bikin bagian collar / pergelangan kaki belakang jadi lebih erat. Hasilnya, fitment EB2 ini jadi mantap! Untuk video menali sepatu bisa dilihat di artikel terdahulu, tonton dari durasi 00:00 untuk nonton lengkapnya.

Di saat hari cerah dan kering, saya bisa lari seperti biasa, yaitu dengan full foot strike dan midfoot striking. Saat mencoba full foot striking, rasanya responsif tapi sedikit beda. Saya merasa midsole Boost ngga berasa seempuk kalau dipakai jalan, tapi ngga jadi berasa responsif banget seperti sepatu flat / racer juga. Yang pasti, impact yang terjadi cukup teredam dan kesan bouncy terasa sedikit. Energy return, yang jadi ‘buzz word’ untuk sepatu lari, terus terang ngga terasa.. atau mungkin sayanya aja yang ngga peka. Tapi, lari pakai EB2 ini ngga bikin kaki saya cepat lelah. Mungkinkah itu yang dimaksud dengan energy return? Entahlah.

adidas’ Boost foam (sumber foto)

Kalau saya coba midfoot hingga forefoot striking, saya merasa bagian depan dari EB2 ini lebih responsif. Meski begitu buat saya agak susah untuk berlari cepat dengan teknik ini karena: (1) saya ngga biasa; dan (2) saya merasa drop EB2 yang 10mm ini lebih cocok untuk full foot dan heel strike. Nah, di sini saya dibuat bingung sama adidas. Saya merasa impresi saya barusan jadi ngga relevan kalau saya pakai Adios Boost 2. Ada harga ada rupa kali ya?

Upper Techfit rasanya nyaman-nyaman aja selama saya pakai lari. Cangkang plastik tetap terasa menyangga arch, tapi jadi sedikit ganggu karena terasa ketat. Saya mencoba berpikir positif, “mungkin karena sepatunya belum break in”. Atau mungkin juga bisa diakali dengan mengubah pola tali sepatu. Itu mah perkara gampang.

Outsole Adiwear ternyata memang lebih mantap di jalanan kering. Kombinasi Adiwear dengan Boost bisa ngasih kesan ride yang menyenangkan buat saya. EB2 yang terasa agak berat kalau lagi diam ternyata berasa ringan saat dipakai lari. Hanya saja saya suka berkhayal, “andai saja outsole depannya pakai Continental, pasti rasanya mirip Adios Boost 2”. Iya, tapi harga juga jadi mirip nantinya. Hahaha! Yah.. namanya juga ngayal..


IMPRESI HARI KE-3: JALANAN & HUJAN (LAGI)

Apa mau dikata, namanya juga musim hujan, dekat imlek pula. Kali ini, sepatu saya tali supaya lebih erat di collar. Jadi begitu kemasukan air ngga akan berasa kedodoran lagi. Hujan kali ini ngga deras, tapi agak lebih banyak volumenya dibanding waktu pertama kali lari pakai EB2.

Perbedaan yang paling terasa dibanding hari ke-1 tentunya di fitment sepatu yang lebih erat terutama di bagian pergelangan kaki. Kaki tetap basah, tapi sepatu ngga kerasa berat lagi. Di bagian dalam sepatu, kaki saya juga ngga lagi bergeser-geser. Rasanya sepatu jadi menyatu dengan kaki. Ride berasa lebih menyenangkan.

Ilustrasi: cangkang plastik di logo 3 garis adidas (sumber foto)

Di sisi lain, cangkang plastik di upper midfoot terasa lebih erat di kaki. Hal ini bisa mengganggu kenyamanan di saat lari. Saya merasa agak terbatasi karena tali sepatu bawaan EB2 cenderung pendek untuk ikatan sampai ke lubang teratas. Bisa aja saya akalin pakai tali sepatu yang lebih panjang, dan di sinilah saya menyayangkan kenapa adidas ngga ngasih tali yang lebih panjang. Atau kasih lah 1 set tali sepatu tambahan yang lebih panjang.

Performa Boost tidak terasa ada perubahan, konsisten seperti saat pertama kali dipakai. Performa Adiwear ada sedikit perbaikan dalam hal grip yang menjadi lebih nyaman dari sebelumnya. Mungkin permasalahannya hanya di perkara break in sepatunya aja. Mudah-mudahan hal ini pertanda klaim adidas terbukti bahwa teknologi sepatu ini akan selalu ngasih rasa ride yang sama di cuaca apa pun.


IMPRESI UMUM LAINNYA

Satu hal yang saya ngga suka dari adidas Energy Boost 2 Techfit ini adalah lumayan repot dikeringkan kalau sudah dipakai basah-basahan. Saya biasa pakai koran bekas untuk menyerap air di bagian dalam. Bahan Techfit yang lentur justru bikin saya harus mengeluarkan usaha lebih untuk menyumpalkan koran ke dalam sepatu bagian depan. Bahan strobel di bawah insole juga bikin usaha mengeringkan sepatu jadi perlu waktu lebih lama. Lalu coakan di dasar untuk memasang pod miCoach juga terasa percuma karena hari gini orang lebih suka pakai smartphone atau GPS watch. Yang ada malah nambah-nambahin area yang susah dikeringin.

Saya merasa sepatu ini bisa aja dipakai secara kasual alias buat jalan-jalan, apalagi kalau penggunaannya sudah tinggi (di atas 650km). Tapi ada satu hal yang perlu diwaspadai, yaitu semacam bibir yang nongol di outsole bagian belakang. Bibir seperti ini mudah sekali nyangkut kalau sepatu dipakai turun tangga. Bukan deal breaker, tapi ada baiknya kita lebih hati-hati. Saran saya, kalau EB2 ini sudah saatnya berubah fungsi jadi sepatu jalan-jalan, sebaiknya bibir belakang ini dipotong saja sehingga rata dengan tumit sepatu supaya aman.

Secara keseluruhan, saya suka dengan adidas Energy Boost 2 ini. Empuk tapi juga responsif. Dan yang terpenting, meski ukuran lebarnya di kategori D, bahan Techfit-nya bisa mengakomodir jari kaki saya supaya ngga tergencet lagi saat berlari.

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s