1 Bulan Kemudian: adidas Energy Boost 2M

Mereview sepatu ini butuh perjuangan. Musim hujan membuat jadwal lari saya jadi berantakan. Tapi saya sudah berhasil lari dengan sepatu ini kurang lebih 50 km dan inilah hasil yang bisa diceritakan dari pengalaman saya. Yuk kita bahas satu per satu.

Bicara mengenai adidas Energy Boost 2M (EB2) pasti bakal ngomongin teknologi Boost Foam-nya adidas. Hasil pengetesan saya, Boost Foam cocok untuk semua jenis foot strike. Heel strike bisa diredam dengan sangat baik, benturan ke aspal ngga berasa. Untuk midfoot & forefoot strike bakal saya bahas di segmen Ride.

HT drop 10mm masih belum biasa buat saya yang sudah nyaman di 8mm (League Volans 2). Mungkin perlu lebih ngebiasain lagi. Di bagian bawah EB2 ada Torsion Beam yang katanya untuk stability. Sayangnya jadi bikin sepatu ini ngga sefleksibel yang saya mau.

Outsole Adiwear sempat kerasa licin waktu pertama nyoba lari pas hujan, tapi sekarang sudah ngga khawatir lagi. Grip Adiwear cukup baik untuk penggunaan di jalanan aspal, beton, dan sebangsanya. Tapi tetap hati-hati di permukaan licin.

Insole di EB2 memang ngaruh ke empuknya sepatu. Tapi bikin EB2 berasa kurang lega ke atas di bagian midfoot & forefoot. Kalau insolenya dilepas langsung kerasa lebih lega. Tapi karena di sepatu yang kiri ada coakan di strobel (lapisan alas) untuk tempat memasang foot pod, jadinya berasa aneh di telapak kaki.

Bagian upper berbahan Techfit bisa lumayan agak melar ke hampir segala arah. Buat yang punya kaki sedikit lebar kaya saya, bahan seperti ini ngga bikin jari tergencet ke bahan upper sepatu. Buat lari jarak jauh sih kepake banget.

Untuk urusan fitment, cangkang plastik (logo 3 strip) tempat masang tali sepatu bisa bikin midfoot bagian atas jadi berasa sempit pas kaki mulai mekar karena lari. Saya ngakalinnya dengan melonggarkan tali sepatu yang masuk ke lubang paling bawah di cangkang ini.

Bagian ankle / collar di EB2 pakai padding yang nyaman dan bisa nge-grip ke achilles meski tali sepatu ngga terikat kencang. Tapi kalau pas hujan atau gerimis malah bisa bikin gesekan dan achilles jadi melepuh. Buat pelari yang kulitnya agak sensitif (kaya saya), sebaiknya pakai kaos kaki yang naik di atas collar untuk mencegah kulit melepuh.

Ride dengan EB2 bisa dibilang empuk & agak bouncy (membal). Ketika saya lari dengan forefoot strike, terasa ada sedikit feedback dari Boost di setiap jejakan langkah. Hal ini ngga kerasa kalau midfoot / full foot striking. Meski begitu, EB2 ini empuknya ngga squishy, masih cukup firm lah. Sepatu ini juga terasa responsif. Permukaan aspal, beton, kerikil, tanah, ataupun konblok trotoar bisa terasa di kaki.

Harga normalnya memang termasuk sangat mahal, tapi saat ini sudah ada toko yang kasih diskon hingga 50%. Untuk sepatu yang diluncurkan perdana bulan Februari 2014, harga diskonnya saat ini bisa dibilang worth it. Bisa di bawah 1jt lho…

Suka:

  • Boost Foam.
  • Bobot relatif ringan.
  • Techfit untuk kaki agak lebar.
  • Durabilitas.

Ngga Suka:

  • Warna (saya dapat warna Earth Green).
  • Mahal, cari yang lagi diskon aja.
  • Bobot, kalau bisa lebih ringan lagi.
  • HT drop 10mm agak ketinggian buat saya.

Kesimpulan:

adidas Energy Boost 2M adalah jalan masuk bagi Anda yang pingin nyoba teknologi Boost, terutama dengan adanya diskon. Teknologi Boost Foam saya kasih jempol dalam artian adidas ngga omdo.

Saya rasa EB2 cocok buat Anda yang suka sepatu lari yang cukup firm, tapi juga bisa empuk saat dibutuhkan. Misalnya sewaktu kaki mulai lelah & foot strike mulai berantakan. Anda yang kepingin serius mendalami long distance running bisa mempertimbangkan sepatu ini.

6 thoughts on “1 Bulan Kemudian: adidas Energy Boost 2M

  1. Oh iya lupa untuk sepatu yg rekomendedapa ya mas volan 2 0, energy boost adidas atau ada merk lain yg lebih bagus? Saya jg masih pilah-pilih sepatu, makasih atas jawabanya . . .

    1. kalau sepatu lari, di indonesia itu pilihannya ngga selengkap di luar negeri. jadi sangat disarankan untuk datang ke toko sepatu untuk nyoba langsung sepatunya.

      bisa dimulai dengan milih sepatu lari jenis netral. coba pakai, berdiri, jalan2 sedikit di toko, dan lari2 kecil di tempat. tujuannya untuk mencari kriteria utama yaitu harus nyaman di kaki. saringan kedua pastinya urusan harga; beli yang masuk anggaran aja. soal corak, design, atau merek sepatunya perkara paling terakhir, ngga usah terlalu dipusingin.

  2. Mas saya klo lari g bisa 100% lari, campur 50% jalan, itupun udah maksa, gmn caranya biar bisa lari 100%? Klo saya lari kulit kaki dibawah jempol melepuh, knp ya mas? Saya klo paksa tiap hari lari lutut sakit, dipaksa atau rehat, klo dipaksa saya khawatir knapa-napa lutut saya? makasih mas atas jawabannya

    1. saya coba jawab satu2 poinnya ya.

      1. lari masih campur jalan? ga masalah. lama2 akan kuat lari non stop. untuk latihan, coba baca2 tulisan saya tentang C25K.

      2. kulit melepuh itu intinya karena ada gesekan. bisa disiasatin dengan cara menali sepatunya biar ngga longgar. bisa pakai kaus kaki yang pas dan ngga longgar kaus kakinya. kalau masih kejadian, bisa dicoba pakai vaseline petroleum jelly sebelum lari.

      3. lari tiap hari kalo belum biasa ya badan pasti protes, mas. kasih istirahat selang sehari, jadi badan ada waktu buat recovery.

      4. kalo soal lutut sakit, bisa jadi karena postur badan saat lari belum benar. coba dibiasain lari dengan postur badan atas tegak, kaki mendarat lurus di bawah pinggul dengan lutut agak ditekuk / jangan kaku, mendaratnya jangan di tumit tapi telapak depan. bukan jinjit ya, karena setelah telapak depan nyentuh tanah, tumit juga tetap ikut mendarat.

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s