Impresi App Strava

Strava Running and Cycling GPS

Awal saya nyoba menekuni olah raga lari, saya pakai app di hape dengan maksud biar kekinian aja kaya orang-orang. Haha! Saya sempat nyoba banyak apps untuk tracking hasil lari berdasarkan rekomendasi di internet dan hasil nyari di Play Store. Lama-lama kesaring dengan sendirinya, banyak apps yang gugur. Salah satu yang bertahan adalah Strava. Kaya apa sih appnya?


DISCLAIMER: Saya ngga ngatlit, cuma senang ngelihat perkembangan dari usaha saya. Pertama kali pakai app semacam ini, saya senang ngelihat gambar rute larinya. Nah waktu larinya mulai lebih serius, saya malah jadi merhatiin angka jarak, waktu bergerak, pace, splits, dan sebagainya. Nyandu deh…

Gambar layar pembuka app

Strava adalah salah satu app tracking yang tersedia secara gratis di Google Play Store. Seperti app tracking lari lainnya, Strava juga ada fitur sosialnya di mana kita bisa follow teman-teman kita, bahkan bisa follow atlit-atlit pro pengguna Strava di seluruh dunia. Tinggal search nama orangnya aja.

Strava punya fitur premium berbasis langganan yang sepertinya akan lebih bermanfaat untuk yang mendedikasikan diri di olah raga lari dan sepeda. Biayanya termasuk dalam kategori mahal untuk app sejenis. Buat pelari kelas amatir macam saya sih, fitur basicnya di versi free udah cukup fungsional. Bisa ngetrack berapa lama kita lari, seberapa jauh jaraknya, dan ada gambar rutenya.

Pertama kali pake Strava, mungkin bingung harus mulai dari mana. Nah, di atas kiri di sebelah kanan icon/logo Strava, ada text yang bisa diklik. Nanti bisa pilih mau masuk ke menu yang mana. Pilih menu ‘Record’ untuk masuk ke mode tracking.

Tampilan mode tracking

Strava perlu GPS untuk ngetrack lari. Kalo belum aktif, muncul pop up remindernya. Di layar ini, navigasi ke tampilan lain bisa dengan ngeswipe ke kanan atau ke kiri. Layar paling kanan adalah tampilan peta. Di layar ini, kita bisa pilih rute yang udah kita buat di web. Kalau ngga ada rute, layar ini ngasih lihat tracking secara bebas. Untuk balik ke layar kirinya, kita harus tarik bentuk tab di kiri yang ada 3 titiknya. Tarik ke arah kanan.

Tampilan rute & live tracking.

Kayanya cuma itu layar di app Strava yang paling sering dipelototin. Layar hasil lari juga lumayan sering dilihat, tapi kalau habis lari cuma kepingin merhatiin sebentaran aja. Lebih enak kalau dibuka di websitenya. Tampilannya lebih lega. Lebih santai juga merhatiin hasil lari kita. Di bawah ini saya kasih beberapa screen shot dengan penjelasannya di bawah masing-masing gambar.

Dashboard (layar default) berisi update terbaru dari aktivitas kita dan orang-orang yang kita follow.
Cukup ganti menu “I’m Following” ke “My Activities” untuk menampilkan update pribadi aja.
Tampilan untuk sekilas hasil lari kita.
Tampilan rute yang berhasil ditrack dan split waktu berdasarkan pace kita.
Tampilan log latihan kita dalam format mingguan.

Yang menyenangkan dari Strava buat pengguna versi free adalah Strava Challenges yang ada terus setiap bulannya. Kita bisa lihat tantangan apa aja yang tersedia berikut penjelasan masing-masing tantangan. Setelah itu kita tinggal klik “Join Now” untuk ikutan di tantangan yang kita mau. Saya kasih screen shotnya di bawah ini.

Tampilan layar tantangan.

Jenis tantangannya bervariasi. Mulai dari yang ringan kaya MTS, di mana kita cukup mengakumulasi jarak lari kita selama sebulan, minimal 40km untuk bulan Maret ini. Ada juga tantangan non akumulatif, seperti lari 10K dan lari Half Marathon. Kadang muncul tantangan baru di pertengahan bahkan di akhir bulan. Jadi memang harus sering ngecek.

Di akhir bulan, kita bisa lihat peringkat kita di tantangan ini dan buat pembanding ada angka total pengguna Strava yang join tantangan ini. Jadi, biar kata urutan saya ada di 40ribu-an, tapi karena pesertanya ada 70ribu-an, artinya ada hingga 30ribu-an pelari lain yang peringkatnya ada di bawah saya. Surprising.

Tampilan rute yang pernah kita buat

Terakhir, ada fitur yang paling saya suka, yaitu membuat rute. Dengan fitur ini, saya bisa bikin rute latihan untuk lari 5K & 10K di sekitaran tempat tinggal. Asiknya, rute-rute ini bisa kita share juga ke teman-teman yang ikutan Strava. Mengenai bikin rute di layanan tracking semacam ini, rencananya akan saya buat artikel tersendiri. Sabar aja ya.


IMPRESI KESELURUHAN

Secara keseluruhan, saya suka Strava, terutama dengan adanya Strava Challenges dan Route Builder. UI app ini sayangnya kurang friendly buat newbie dan mereka yang gaptek. Bukannya susah, tapi ngga segampang langsung bisa, alias akan butuh sedikit waktu untuk ngebiasain. Berikut hal-hal yang saya suka/ngga suka dalam poin-poin.

Suka:

  • Strava Challenges.
  • Bisa tracking perkembangan lari kita.
  • Motivasi dari Top Results.
  • Bikin rute sendiri.
  • Fitur sharing foto buat bikin ngiler teman.
  • Bisa “ngelihat” latihannya atlit-atlit pro tingkat dunia.

Ngga suka:

  • Tracking GPS suka berantakan di hape, entah kalau pakai jam tangan GPS.
  • Susah narik tab di kiri layar peta.
  • Kalo muncul bug (ngga selalu), hasil tracking bisa hilang total.
  • Fitur premium biayanya mahal.

Akhir Maret 2015 ini saya akan berhenti dulu pakai Strava, setelah saya menyelesaikan challenge MTS dan 10K. Di bulan-bulan ke depannya saya mau coba mendalami Endomondo dan memberi kesempatan kedua pada app Nike+. Mana yang paling oke di antara ketiganya? Tunggu artikelnya di sini.

One thought on “Impresi App Strava

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s