Lari di Stadion Atletik

Kebetulan stadion atletik di Rawamangun itu deket dari rumah. Saya baru tau kalau semua fasilitas olahraga di sana terbuka untuk umum. Jadilah saya lumayan sering mampir ke stadion atletik di sana. Enak atau ngga sih lari di stadion gitu? Nih, saya ceritain…


Tadinya saya pikir lari di stadion atletik itu masuknya harus bayar. Eh ngga taunya gratis. Ternyata stadion atletik di Rawamangun itu hitungannya fasilitas umum. Kecuali kalau stadionnya private, ya mungkin aja ada peraturan terkait biaya.

Setau saya stadion ini terbuka setiap hari dari pagi sampai larut malam; mungkin dari jam 6.00 sampai jam 22.00. Tapi di hari dan jam tertentu, stadion tertutup untuk umum selama jadwal latihan rutin atlet pelatnas. Untungnya saya masih bisa lari di luar bangunan stadionnya.

Tapi kali ini saya ngga mau cerita cuma tentang stadion atletik di Rawamangun ini aja. Yang saya mau ceritain lebih ke lari di stadion atletik secara umum.

—⊕—

 

APA ENAKNYA LARI DI TREK?

Pertama, permukaan treknya cenderung datar dan terkontrol. Ngga ada tanjakan atau turunan. Jadi cocok banget buat fokus ke gerakan lari dan postur badan. Ngga perlu khawatir sama tanjakan, turunan, atau rintangan yang bikin kita harus zig-zag atau loncat.

Kedua, trek lari itu sifatnya terukur. Jarak satu loop trek atletik di jalur 1 / jalur cepat / paling dalam adalah 400 m. Sedangkan jarak satu loop di jalur 8 / jalur lambat / paling luar adalah sekitar 453 m.

Ketiga, suasana di trek lari itu relatif steril. Udaranya juga bersih. Dan buat yang suka ngerekam pakai GPS bakal dapat hasil tracking yang relatif lebih bagus karena ngga keganggu sama bangunan tinggi.

—⊕—

YANG BIKIN NGGA ENAK LARI DI TREK

Membosankan. Beneran deh. Tapi itu kalau belum biasa atau belum tau apa yang sebetulnya dicari dari latihan lari di trek atletik. Rasa bosan ini bisa kita atasi dengan cara sambil dengerin musik kalau larinya santai. Tapi kalau kita larinya sebagai bagian dari latihan, cukup dengan punya target udah bisa bikin bosannya hilang.

Beberapa stadion bisa jadi dicampur alias dipakai untuk berbagai kegiatan olahraga, ngga cuma lari atau atletik doang. Kan ada tuh yang tengahnya dipakai jadi lapangan bola. Nah kalau lari di stadion kaya begini, siap-siap aja keganggu dan kita ngga boleh protes.

Yang paling parah justru gangguan yang datang dari sesama pengguna trek lari yang ngga ngerti etika lari di trek atletik. Meskipun gratis, bukan berarti bisa pakai sesuka hati. Yang kaya gini biasanya orang-orang yang ngga serius menekuni olah raga lari, tapi pingin ikut lari di stadion.

—⊕—

ETIKA LARI DI TREK ATLETIK

 

Sebenernya ngga susah kok. Kalau di jalan raya, ada jalur lambat, ada jalur cepat. Di trek lari juga begitu. Trek atletik ukuran standar olimpiade punya 8 jalur, dari yang paling dalam (jalur 1) sampai yang paling luar (jalur 8).

Kalau mau latihan speed work atau emang larinya udah kenceng, silahkan pakai jalur paling dalam, jalur 1 – 3. Kalau larinya cuma jogging atau mau jalan kaki, silahkan pakai jalur 6 – 8. Jalur 4 dan 5 buat yang mau lari agak serius, setingkat di atas jogging lah.


Foto dapat dari grup Indo Runners di Facebook.

Intinya sih, kalau mau lari santai, jangan pakai jalur 1 – 3. Anggap aja itu mah buat atlet seriusan. Lari di jalur 4 sampai yang paling luar malah justru enak ngga keganggu sama yang ngebut.

Ada yang berargumen, “Tapi lari di paling dalem kan paling pendek jaraknya”. Ya kalo targetnya lari 5 km, mau di dalem atau di luar sama aja yang penting nyampe 5 km. Targetnya mau lari 60 menit ya lebih ngga ngaruh lagi. Bener kan?

—⊕—

APAKAH SEMUA STADION SAMA?

Sejauh ini, saya baru nyoba datang di dua stadion atletik di Jakarta. Satu di area Velodrome, Rawamangun; satu lagi di GOR Soemantri, Plaza Festival Rasuna Said. Kedua tempat ini punya jenis permukaan yang berbeda.

Di Velodrome, permukaan treknya termasuk yang bagus. Relatif solid tapi kayanya ngga sekeras aspal. Permukaannya sedikit kasar supaya sepatu bisa ngegrip dengan enak. Garis-garis penanda jalur juga keliatan jelas banget. Stadion ini khusus atletik, jadi sejauh ini saya belum pernah keganggu sama kegiatan olah raga lainnya.

GOR Soemantri beda lagi. Di sana lebih mirip stadion yang saya lihat di film dokumenter pelari marathon Kenya. Permukaan treknya kaya tanah kering yang dipadatin. Kalau ada yang sprint pasti ninggalin jejak debu di belakangnya. Sayangnya garis-garis penanda jalur ngga keliatan. Cuma samar-samar di beberapa bagian.

Stadion ini juga campur dengan stadion sepak bola. Penggunanya rame dan banyak yang ngga mau ikut etika. Terus banyak orang nyeberang dari arah pintu masuk ke arah lapangan bola. Stadion ini bisa dibilang ngga steril, jadinya kalau mau latihan lari di sini harus banyak mengalah.

Meski kesannya parah, stadion inilah yang jadi Kawah Candradimuka buat kawan-kawan IndoRunners yang ikutan program Runiversity. Saya sempat ‘ngintip’ mereka latihan interval 6 x 1000m. Performance mereka, khususnya stamina, layak banget dikasih jempol.

—⊕—

Sebetulnya, sepupu saya sempat ngajak latihan lari bareng klub larinya di trek atletik GBK (akses khusus). Sayangnya mereka latihannya hari Sabtu, sedangkan saat ini jadwal saya di Selasa – Kamis – Minggu.

Kedepannya saya ada rencana menambah porsi lari jadi 5x seminggu. Mudah-mudahan Januari tahun depan bisa terlaksana dan saya masih ada kesempatan nyoba lari di dalam trek atletik GBK itu. Aamiin.

 

 

 

4 thoughts on “Lari di Stadion Atletik

  1. Apakah ada klub lari utk anak2 di velodrome rawamangun?

    Tapi saya lebih suka klo ada klub lari anak di bekasi, berhubung tinggal di bekasi. Pls infonya. Tq

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s