Pensiun: adidas Energy Boost 2

Gak kerasa udah hampir setahun sepatu ini menemani saya berlari. Mulai dari jarak yang pendek-pendek sampai lomba half marathon perdana. Sebetulnya masih pingin dipakai sampai jebol, tapi terpaksa dipensiunkan.


 

Usia pakai sepatu lari, rekomendasinya antara 400-500 mil, sekitar 650-1000 km. Karena kalau lebih dari jarak rekomendasi tersebut, secara desain akan terjadi perubahan bentuk yang meskipun hitungannya hanya milimeter, ternyata bisa ngefek ke kenyamanan dan yang paling krusial: bisa bikin kaki sakit. Tapi kalau ngga ada masalah, saya yakin EB2 (adidas Energy Boost 2 -red) bisa menemani lari sampai 1000 km lebih.

Kalau di pengalaman saya ini, EB2 sudah menempuh jarak tercatat di Strava sejauh 522.9 km. Ditambah 8 km sebelum konsisten pakai Strava, dan dua kali sesi lari pendek @ 3 km yang tidak tercatat di Strava karena hapenya error. Berarti totalnya sekitar 536.9 km. Belum sampai 400 mil dan sama sekali belum terasa keras. Lalu masalahnya di mana?

Seiring bertambah rajinnya saya lari, EB2 saya mulai berasa sempit. Jari telunjuk sampai kelingking kaki sering mentok ke ujung dan bikin nyeri. Saya ngerasa heran sendiri, kok telapak kaki bisa jadi tambah panjang? Dulu punya Reebok ukuran 42, terus ganti League ukuran 42 ternyata mentok. Ganti ke adidas EB2 ini, ukuran 43 1/3 awalnya pas dengan jarak satu buku jari di depan, lah sekarang malah mentok juga. Haduh.. *tepok jidat*

Selama memiliki EB2, saya sering ganti pola menali supaya kaki bisa nyaman. Ada 2 masalah kalau pola tali EB2 dibuat normal. Pertama, daerah midfoot saya berasa terlalu tergencet. Kedua, tali EB2 ini kurang panjang, jadinya suka lepas-lepas sendiri. Foto di atas adalah pola tali yang terakhir saya pakai, paling nyaman, dan tidak longgar di pergelangan. Bentuknya aneh ya?

Sol luar tipe Adiwear punya grip yang oke untuk lari di kondisi kering, tapi berasa licin di kondisi basah. Meski begitu tidak ada masalah kalau EB2 dipakai lari ke jalur trel yang ringan, seperti waktu Urbanathlon 2015 Sunrise kemarin. Hanya saja memang harus ekstra hati-hati kalau dipakai di permukaan yang licin dan basah, seperti batu, semen/beton halus, dan kayu.

Di sisi positif, EB2 ini sebetulnya termasuk sepatu jenis cushioning yang cukup ringan dan bisa mengakomodir semua jenis foot strike. Dengan EB2, saya berhasil mengubah kebiasaan lari dari heel strike ke midfoot strike, dan terakhir mulai terbiasa dengan forefoot strike.

Dua foto sol luar EB2 di bawah ini cukup menggambarkan cara saya menjejak ke jalanan. Pola aus paling besar berada di sol depan akibat forefoot striking. Sedangkan pola aus di sol belakang dikarenakan midfoot striking yang masih suka terjadi ketika postur lari saya mulai berantakan. Hehehe…

Bagian upper berjenis Techfit di EB2 ini kesannya gampang sobek. Tapi ternyata kuat juga lho. Sepatu ini udah pernah ikut saya nyusruk di aspal, dibawa kotor-kotoran ke jalur trel ringan tapi lumayan banyak akarnya. Overlaynya juga mulai hancur karena lengket akibat cuaca panas akhir-akhir ini. Plus hampir ngga pernah dicuci.

Satu hal yang sulit saya dapat dari sepatu lari merek lain adalah betapa nyamannya cushioning di EB2 berkat sol tengah Boost. Asli susah mencari kenyamanan setara boost di rentang harga yang sama. Yang lebih mahal? Banyak…

Terima kasih, adidas, karena tekonologi Boost-mu bukan omdo. Mungkin suatu hari nanti kita berjumpa lagi.

One thought on “Pensiun: adidas Energy Boost 2

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s