Review Sepatu Lari: New Balance 870 v4

Sepatu ini disimpulkan oleh Runner’s World sebagai sepatu yang “bisa bikin semua orang senang”. Ah, masa sih? Sekarang setelah saya pake lari total 50 mil (sekitar 80 km), sepertinya sudah cukup untuk dibuat reviewnya.


 

Utamakan Kebutuhan

Selain yang sudah saya ceritakan di artikel pensiunnya sepatu lari saya yang terdahulu, ada 2 kebutuhan besar yang saya temukan setelah beberapa kali mencoba lari jarak half marathon.

Pertama, sebagai pelari midfoot / forefoot striker saya butuh sepatu yang solnya lebih empuk di bagian depan untuk mengakomodir kondisi kaki, khususnya di bagian metatarsal, saat jarak tempuh sudah 15 km ke atas.

Kedua, ternyata struktur kaki saya ada slight / mild pronation. Kalau lari jauh, terasa mata kaki sisi dalam nyeri hingga ke kulit. Serupa tapi tak sama dengan kondisi flat feet. Meski ciri-cirinya mirip, tapi kebutuhannya beda.

Jadi, dengan tujuan menghindari cedera serius, kriteria sepatu lari yang saya cari berdasarkan kebutuhan adalah:

  1. Solnya empuk di bagian depan dengan harapan metatarsal bisa terhindar dari stress fracture.
  2. Tipe stability dengan cushioning atau alternatifnya tipe netral dengan solnya yang tidak terlalu empuk.
  3. Ukuran sepatu bisa mengakomodir kaki yang memuai akibat lari.

Saya termasuk beruntung bisa mencoba beberapa model sepatu lari. Kendalanya, beberapa sepatu yang saya merasa cocok ternyata tidak tersedia ukurannya. Pada akhirnya pilihan saya jatuh ke New Balance 870 v4.

–⊕–

Impresi Awal

Kesan pertama dari 870v4 yang saya rasakan adalah bobotnya ringan dibanding sepatu lari saya yang lama. Padahal solnya terlihat tebal dan padat. Tebalnya sol ini berbanding lurus dengan keempukannya, terutama saat dipakai berlari. Cukup cushioned tapi tidak lembek atau pun kenyal seperti gel.

Sol tengah sepatu ini didominasi materi berwarna putih yang bernama Revlite. Kalau ditekan, Revlite ini terasa empuk. Di bagian tumit ada materi berwarna hijau dengan label Abzorb. Kalau ditekan terasa lebih empuk dari Revlite. Dari posisinya, Abzorb ini berfungsi meredam heel strike dan mengalirkan kaki dengan mulus menuju fase toe off.

Saya agak terkejut sewaktu memperhatikan bagian bawah sol 870 v4 ini. Tepat antara materi Revlite dan alas sepatu (foot bed), saya melihat materi seperti styrofoam / Boost. Kalau ditekan rasanya pun mirip. Sayangnya saya tidak bisa mengkonfirmasi materi tersebut.

Kembali ke sol tengah, di sisi dalam terlihat medial post berwarna biru tanpa ada nama khusus. Kalau ditekan terasa lebih keras dibanding Revlite. Ukuran medial post ini meski cukup besar tapi tidak terasa instrusif saat saya berdiri, berjalan, atau berlari.

Di bagian tumit terasa semacam cangkang yang bernama Asym Counter. Cangkang ini membuat kaki saya terasa lebih kokoh, tidak mudah menekuk ke samping. Secara teori, kombinasi medial post dan cangkang ini bisa mengakomodir pronasi kaki saya.

Sol luar 870 v4 ini berbahan karet yang paling keras (blown rubber?). Sekilas terlihat cukup tahan lama. Gripnya cukup bagus untuk permukaan umum jalanan non-trel, seperti aspal, beton, dan konblok.

Bahan uppernya bernama Fantom Fit cukup ringan dan terventilasi baik sehingga kaki tidak berasa panas atau lembab. Tali sepatunya dapat sedikit meregang namun terasa agak tipis. Saya khawatir talinya akan aus lebih dulu dibanding sepatunya.

Ukuran lebar sepatu ini adalah 2E, seperti yang pernah saya ulas di sini. Saya merasa sepatu ini masih sedikit lebar untuk kaki saya. Untungnya tidak sampai jadi masalah. Saya masih bisa berlari dengan nyaman.

–⊕–

Lari Dengan NB 870 v4

  • PERIODE BREAK IN
    New Balance 870 v4 ini awalnya terasa aneh karena rasa di kaki yang tidak konsisten. Tapi semakin sering dipakai lari, sepatu ini semakin terasa konsisten. Sepertinya sepatu ini butuh masa penyesuaian.
  • SEGALA JENIS FOOT STRIKE
    Dalam kaitan dengan gait cycle, saya sangat terkesan. Saat mencoba forefoot strike, sepatu ini terasa bouncy. Saat midfoot strike, kaki terasa minim tumbukan. Heel strike juga bisa mengalir dengan nyaman.
  • TANPA MASALAH PRONASI
    Medial post dan Asym Counter ternyata berhasil membantu masalah pronasi kaki saya. Sekarang tidak terasa lagi nyeri di mata kaki setelah berlari lebih dari 15 km. Mission accomplished.
  • UPHILL & DOWNHILL
    Ketika berlari di kondisi uphill, sepatu ini berasa sekali bouncy-nya. Efeknya minim stress di plantar fascia bagian tumit. Untuk kondisi downhill, grip sepatu ini membuat percaya diri.
  • SPEED BIASA SAJA, LONG RUN SANGAT OKE
    Saya merasa sepatu ini lebih cenderung untuk long run daripada speed. Bedanya akan terasa saat kita membandingkan dengan sepatu lari yang solnya lebih responsif. Meski begitu, teman saya bisa lari pake 870 v4 di pace rata-rata 4:30/km untuk mengejar PB 5K-nya yaitu 26 menit.
  • ALARM UNTUK GAIT CYCLE BERANTAKAN
    Sol luar 870 v4 bisa terdengar berisik saat gait cycle berantakan. Tapi ketika gait cycle bersih, suaranya cukup lembut.

–⊕–

Kesimpulan

Sebelumnya, di bawah ini ada beberapa poin yang paling menonjol yang saya rasakan dari sepatu New Balance 870 v4.

Suka:

  • Ringan
  • Sol depan empuk dan bouncy
  • Bisa untuk semua jenis foot strike
  • Mengakomodir kondisi mild pronation

Ngga suka:

  • Kombinasi warna (seenggaknya di sepatu yang saya beli)
  • Sol luar yang bisa berisik
  • 2E ternyata agak kebesaran

New Balance 870 v4 layak dipertimbangkan kalau Anda mencari sepatu lari untuk kaki dengan slight / mild pronation. Sepatu ini bisa dibilang cukup all-rounder untuk road running shoe dengan karakteristik yang positif.

 


Punya pertanyaan atau pendapat tentang artikel ini? Silahkan tulis di boks komentar dan saya akan respon secepatnya. Share artikel ini jika Anda suka atau terasa bermanfaat. Thanks! (gorboman)

5 thoughts on “Review Sepatu Lari: New Balance 870 v4

  1. Mantap…gan sepatunya.saya mau nanya , enakan mana new balance nya sama adidas energy boost nya,pengen punya adidas .dirumah ada running free sama ff zante dan skacher burst , apa energy boost sama dengan burst,kurang suka sama burst karna terlalu mentul mentul gitu. Maaf gan agak cerewet..teng kiu.

    1. beda karakter sih, gan. dua2nya cocok buat long run. tapi energy boost lebih enak kalo mau diajak ngebut.

      skechers burst beda lagi, mirip teksturnya aja sama boost. tapi karena belum pernah nyoba jadi ga bisa komentar lebih jauh.

      boost agak membal juga sebetulnya, tapi lebih ke springy daripada mental mentul.

      kalo pengen adidas yang agak mirip ke zante / free, mungkin bisa coba glide boost atau seri adizero mereka.

    1. kalo running shoes utamain kecocokan dengan anatomi kaki. soal model bisa belakangan. karena untuk pelari, sepatu ngga tepat justru bisa bikin cedera.

      dr. oshanya boleh tuh buat naik motor :)

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s