Badan Pun Akhirnya Protes

header_badanprotes

Sudah hampir seminggu ini saya nggak lari karena sakit. Padahal sebentar lagi Bali Marathon. Badan boleh istirahat, tapi pikiran nggak bisa.

Apakah karena khawatir nggak bisa berangkat Bali Marathon? Bukan. Selama bed rest, saya jadi memikirkan beberapa obrolan dan pengalaman yang belum lama saya alami. Tiba-tiba terpikir, “hmm.. mungkin cukup menarik untuk saya share di blog nih”.


NGILU & NYERI SEKUJUR KAKI

Ini merupakan pengalaman pertama di mana kedua kaki menjadi terasa ngilu dan nyeri saat 5 km terakhir sewaktu long run yang lalu. Rasanya muncul perlahan-lahan, lalu hilang ketika dibawa jalan kaki, tapi kembali ngilu dan nyeri ketika berlari. Semakin saya lanjutkan lari, semakin ngilu dan nyeri kedua kaki saya.

Apakah karena makanan ketika acara lamaran saudara di Bandung? Apakah karena kebanyakan minum Pocari dalam satu sesi? Apakah karena kebanyakan cairan dalam waktu terlalu dekat? Apakah memang lactate threshold saya yang sedang mencapai maksimal?

Akhirnya saya cuma bisa menebak mungkin inilah yang disebut nyeri akibat asam laktat (lactic acid) terlalu tinggi di dalam darah. Suatu hal yang wajar terjadi bagi pelari dan bisa hilang dengan sendirinya dalam waktu 1 jam. Atau bisa juga hal lain yang bukan asam laktat. Entahlah.


BENARKAH HARUS HEEL STRIKE ITU JELEK?

Percakapan ini terjadi seminggu sebelum saya sakit bersama seorang teman di stadion atletik Sumantri. Saat itu ia mengeluhkan nyeri di tumit, yang mana salah satu ciri dari pelari dengan forefoot strike namun otot pendukung belum kuat. Ketika saya tanyakan mengenai kebiasaan foot strike yang dia lakukan, ternyata benar. Namun itu pun atas arahan dari coach tim pelatihan yang sedang dia ikuti.

Memang banyak literatur yang menyebutkan bahwa berlari paling baik adalah dengan forefoot strike. Alasannya balik ke persoalan “tinggalkan heel strike karena akan membuat gerakanmu ‘mengerem’ laju lari”. Dulu saya percaya sekali akan hal ini, tapi sekarang sudah tidak terlalu percaya. Saya lebih percaya dengan “if it works for you and does not cause pain or injury, then it’s a good running form for you”.

Buktinya langsung ada di depan mata kami. Saat itu kebetulan ada seorang triathlete, Abdoullah Mitiche, sedang latihan juga di trek. Larinya stabil dan termasuk sangat kencang (average pace 3:48/km di Strava-nya). Dan ketika kami perhatikan kakinya, ia berlari secara heel strike!! Lalu ada pelari kencang lain yang kami kenal, Uchie, juga melakukan heel strike tapi hanya di kaki kirinya, sedangkan kaki kanannya midfoot strike.

Kesamaan di antara Doel dan Uchie adalah saat menjejak, tulang kering mereka bisa dibilang tegak lurus terhadap tanah. Jadi saat beban maksimal terjadi, tungkai kaki mereka berada di bawah titik beban masa tubuh. Poinnya adalah, kalau heel strike itu jelek, lalu kenapa mereka bisa kencang?


JIKA GAGAL IKUT BALI MARATHON?

Sakit kali ini sepertinya karena terlalu capek. Hari Minggu saya nyetir dari Bandung ke Jakarta dalam keadaan sudah mual karena masuk angin. Besoknya saya kerja seperti biasa dan malamnya saya long run, dapat sekitar 21 km. Karena sehari-hari naik motor, kemungkinan besar sudah capek ditambah lagi masuk angin. Lalu besoknya tetap kerja seperti biasa. Tumbang lah sudah.

Saat ini saya sudah mulai recover, mungkin kondisi saya 70%. Hari Minggu besok saya mau coba mulai lari lagi, tapi saya nggak mau terlalu memaksakan diri. Saya ini punya riwayat kesehatan yang buruk, terutama dulu saat SMA perna kena sakit kuning / liver (hepatitis A). Saya agak khawatir livernya kambuh lagi. Kalau iya, jelas nggak bisa ikutan lomba.

Sebetulnya saya nggak terlalu masalah kalau gagal ikut lomba. Namanya juga sakit dan masih ada kesempatan event marathon lainnya. Yang saya pikirkan adalah nasib teman saya yang sharing kamar hotel, soalnya yang booking hotelnya saya. Saya berdoa aja untuk bisa tetap berangkat ke Bali meski tidak ikutan lomba. Setidaknya teman saya nggak perlu kerepotan. Aamiin.

One thought on “Badan Pun Akhirnya Protes

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s