Bali Marathon: Saya Nggak Siap

mbm2016-header

Dapat restu dari keluarga: check! Daftar via grup supaya murah: check! Transportasi dan akomodasi: check! Cuti dari kantor: check! Saya pun berangkat menuju Bali Marathon. Yaaay!


Tahun 2016 ini saya berkesempatan memenuhi salah satu nomor di Bucket List saya. Maybank Bali Marathon 2016 direkomendasikan ke saya sebagai event pertama untuk mencoba lari (dan jalan) di kategori full marathon (FM) atau sejauh 42,195 kilometer. Jauh ya? Banget.

Semua orang yang saya kenal bilang bahwa siapa pun yang sudah terbiasa lari 5 km pasti bisa menempuh jarak half marathon (21 km), tapi FM itu bukan lagi jarak main-main. Butuh persiapan yang matang dari sisi fisik dan nutrisi, sehingga pada saat hari H kita sanggup menempuh jarak FM dengan baik sesuai target yang diinginkan.

Persiapan saya sendiri sangat jauh dari sempurna karena berbagai keterbatasan yang saya alami. Latihan hanya dibantu lewat aplikasi smartphone, makanan tidak ‘bersih’, dan jam tidur yang berantakan. Saya realistis saja dalam menentukan target. Awalnya pingin 5 jam, lalu turun jadi 5 jam 30 menit, dan akhirnya cukup bisa finish sebelum cut off time (COT).

mbm2016-photo-01

Fast forward ke tanggal 26 Agustus 2016, tibalah saya di Bali. Berkat bantuan adik dan istrinya yang memang tinggal di Bali, saya jadi bisa segera check in ke hotel lalu melakukan race pack collection (RPC) di kawasan BTDC. Di sisi lain, kumpul keluarga melepas kangen membuat saya lupa waktu. There goes my taper run. Pelajaran bagi saya bahwa sebaiknya saya fokus dulu pada persiapan lomba. Tentu akan ada sangat banyak waktu untuk keluarga setelah lomba selesai.

mbm2016-photo-02

Minggu, 28 Agustus 2016, dini hari. Hari perlombaan. Saya dan beberapa teman berangkat menggunakan bis shuttle dari Sanur. Sengaja kami pilih Sanur karena Shuttlenya paling ‘siang’ dan kami butuh tidurnya. Kurang lebih 30 – 45 menit kami tiba di lokasi dengan jalanan yang mulai macet merayap.

Kami langsung ke lokasi bag drop yang ternyata harus mengantri security point yang cukup ketat. Para peserta semakin menyemut dan sulit untuk melakukan pemanasan dan drill. Akhirnya kami mencoba melakukan pemanasan di area start yang tidak ideal, tapi selengkap mungkin.

mbm2016-photo-03

Jam 5.00 WITA, kami pun memulai perlombaan. Saya yang tidak punya jam GPS memutuskan mengikuti pace teman yang menggunakan Garmin. Selain itu patokan saya adalah balon pacer di depan harus bisa tetap terlihat. Kami berlari dengan konservatif di pace 7:40/km di awal lomba, dengan rencana kenaikan sedikit demi sedikit setiap 10 km.

Rute awal cukup santai karena meski jalur beton, tapi hanya lurus dengan naik turun elevasi yang relatif jinak. Sekitar KM 9, kami mendapat sambutan unik dari para penari kecak yang menyemangati kami. Rasanya senang sekali. Tak jauh dari situ, kami bertemu putaran balik di KM 10. Setelah itu kami dibelokkan ke kiri ke arah pemukiman dan rute pun mulai menanjak.

Meski banyak tanjakan, tapi rute ini masih terbilang wajar dan tidak berat. Apalagi sejauh ini water station (WS) yang saya lalui tertib adanya setiap 2.5 km menyediakan Pocari dan air mineral. Saya sudah terpisah dari teman yang memakai jam GPS. Jadi patokan saya hanya balon pacer di depan.

Kami keluar dari area pemukiman (sekitar KM 15) dan kembali masuk ke jalur beton. Sekitar KM 17, kami kembali lagi dibelokkan ke area pemukiman. Pacer masih terlihat di jarak yang aman. Saya pikir kalau saya bisa pertahankan pace stabil, mungkin beberapa KM akhir nanti saya bisa coba push untuk menyusul pacer itu.

Sekitar KM 20 – 21, kami dipertemukan dengan turunan panjang yang sangat curam. Saking curamnya, kami semua harus berusaha lebih untuk menahan laju. Bahkan beberapa pelari mulai jalan kaki karena memang sangat riskan berlari di turunan securam itu.

Dan tentunya setelah turunan, pasti ada tanjakan. Dan tanjakan ini sama curamnya dan sama panjangnya dengan turunan tadi. Saya pun akhirnya berjalan menyicil tanjakan ini. Ada beberapa pelari yang berzig-zag untuk mengurangi efek curam. Tapi saya merasa sudah tanggung untuk berganti zig-zag.

Setibanya di atas, saya melanjutkan lari. Pacer terlihat sedikit lebih menjauh dari sebelumnya. Saya yakin ini efek dari lembah tadi, tapi saya juga optimis masih bisa kembali ke posisi semula dan melanjutkan niat menyusul si pacer nanti. Namun impian itu harus saya kubur. Di KM 23, saya mulai diserang keram.

Di KM 23, saya mulai diserang keram.

Awalnya hanya terasa sedikit di betis kiri. Saya coba pelankan pace sedikit, keramnya hilang. Lalu saya kembali berlari dengan pace semula. Baru di KM 25, achilles tendon di kaki kanan ikut keram. Saya nggak mau berhenti karena teringat kata salah seorang coach, “Sekalinya kamu berhenti, ke depannya bakal banyak godaan untuk berhenti. Push terus!”.

Sayangnya situasi saya justru serba salah. Kalau dibawa lari, keramnya mulai menjalar ke mana-mana. Jempol kaki kanan mulai ikut menekuk. Saya tidak mau otot jadi mengunci dan menjadi nyeri sampai harus DNF (did not finish). Sedangkan kalau dibawa jalan kaki, telapak jadi cepat terasa mekar, panas, dan juga nyeri.

“Gue harus sampai finish meski harus jalan kaki!”, begitu tekad saya waktu itu. Sekali-sekali saya coba mulai berlari lagi. Paling jauh hanya beberapa ratus meter lalu keram di achilles tendon kanan terasa lagi. Bisa dibilang hampir setengah rute saya lalui dengan berjalan. Dan hari itu Bali panas dan teriknya nggak ketulungan.

Panas, kesakitan, kesal, dan pasrah bercampur aduk. Di beberapa titik medis, saya menanyakan apakah ada sesuatu atau hal yang bisa dilakukan untuk keram saya. Sayangnya kebanyakan tidak punya. Entah sudah habis atau belum menguasai skill-nya. Hanya di dua titik saya berhasil menemukan Counter Pain yang membuat saya bisa kembali berlari, meski pelan dan paling hanya sanggup 1 km sebelum nyeri di kaki mulai menjadi.

mbm2016-photo-06

 

Memasuki KM 35, perjalanan mulai berasa tidak kunjung selesai. Jarak WS rasanya lebih dari 2.5 km, padahal di buku panduan jaraknya sudah harus lebih dekat dari itu. Lalu mulai terlihat gate-gate balon yang memberi harapan tapi juga rasa kesal. Saya kira sudah sampai KM 39, ternyata di papannya tertulis KM 38. Wah! Benar-benar sulit untuk fokus.

Strava di kantong belt saya selalu berbunyi setiap 1 km. Saya sudah tidak fokus mendengarkan sejak terserang keram. Yang saya tangkap hanya average pace saya yang terus menurun. Sampai di KM 40, tiba-tiba saya dengar “Your time is six hours, 20 minutes, bla bla bla…”. 

Holy sh*t! 40 menit lagi COT!!

Paniklah saya sejadi-jadinya. “Sudah jauh-jauh pergi ke Bali, sudah menempuh 40 km pula, masa iya kena COT?!”, pikir saya. Entah dapat angin dari mana, saya pun memutuskan untuk kembali berlari dan kalau terasa lagi nyeri atau keram, saya mau push terus. Anehnya rasa nyeri dan keram yang sepanjang jalan terasa mendadak hilang. Wow… Magic…

Sekitar KM 41, saya berbelok masuk ke jalur beton. Panasnya membara! Saya betul-betul merasakan pantulan panas dari beton sampai ke pinggang. Doa saya saat itu hanya, “Please jangan sampai pingsan”. Saat melihat gate terakhir, saya tersenyum lega… eh, tapi sebentar… itu bukan gate finish. Sial!! Gate finishnya (yang ada timernya) ternyata masih 100 meter lagi di belakangnya. Hajaaaaarrr!!

Akhirnya saya berhasil juga finish dengan catatan waktu 6:51:xx (gun time). Bukan sebuah prestasi yang bisa dibanggakan, tapi saya banyak belajar. Alhamdulillah target saya tercapai: finish di bawah COT atau jangan sampai DNF.

mbm2016-photo-05


Terlepas dari pengalaman dan hasil, inilah penilaian pribadi saya untuk Maybank Bali Marathon 2016.

Suka:

  • Penyelenggaraan relatif bagus dan rapi.
  • Disemangati oleh para penari dan anak-anak kecil.
  • Kualitas race tee, finisher tee, dan medali.
  • WS rapi dengan Pocari dan air mineral.

Nggak Suka:

  • Harus minta tiket shuttle waktu RPC, padahal di BIB sudah tertulis juga pickup pointnya.
  • Sign nama meja waktu RPC nggak kelihatan. Baiknya sih digantung.
  • Jalur FM makin siang makin nggak steril.
  • Pocarinya sih dingin, tapi air mineralnya nggak. Duh!
  • Kurang jumlah WS sponge / siram. Panas banget!
  • Butuh perbanyak kesiapan panitia untuk penanganan keram pada peserta.

Secara keseluruhan, saya suka dengan pengalaman Bali Marathon dan saya sangat rekomendasikan. Saya penasaran untuk mencoba kembali Bali Marathon tahun depan, tapi saya juga tertarik dengan Lombok Marathon. Sayangnya saya cuma sanggup daftar salah satu saja untuk tahun depan. Kita lihat saja nanti jadinya daftar yang mana.

mbm2016-photo-04

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s