Review Sepatu Lari: adidas Supernova Glide Boost 8

header-adidas-glide

Sepatu ini adalah adidas boost saya yang kedua dan sudah menemani saya lari sejauh 144,7 km. Kesan versi singkatnya: I like it!


Sebelum adidas yang ini, sepatu lari saya adalah New Balance 870v4 yang waktu itu saya beli karena ngerasa kaki rasa-rasanya mengacu ke tipe pronator. Ternyata waktu saya ke fisioterapi karena ada cedera, fisioterapisnya bilang, “Wah, mas kakinya jenis over supinator nih”. Terus saya cek keausan di tapak sepatu NB dan terbukti ausnya di sisi luar khas kaki supinator. Lha… Salah pake sepatu dong gue?

sgb8_foto-01

Kebetulan si NB umurnya sudah mendekati 500 km dan sudah mulai muncul keluhan nyeri di tumit. Akhirnya saya putuskan untuk nyari sepatu lari baru, kali ini yang cocok untuk kaki jenis supinator. Pencarian saya mengerucut ke Nike Pegasus 33 sebagai pilihan pertama, adidas Supernova Glide Boost 7 sebagai runner up. Keduanya dinilai cocok untuk jenis kaki saya (supinate) dan cara lari saya (forefoot strike), itu juga kata internet.

Satu hari saya ada firasat untuk mampir ke outlet adidas di dekat rumah, niatnya untuk beli kaos kaki bukan beli sepatu. Beruntung banget saya karena ternyata adidas Supernova Glide Boost 8 (SGB8) sedang diskon dan harganya di bawah 1 juta. Langsung bungkus. Yiihaaa!

–⊕–

Kesan On Foot

Saat pertama dipakai, saya merasa SGB8 cukup lega di bagian depan, tapi bagian belakang (tumit) kayak agak longgar. Untungnya lidah sepatu ini dibuat nyambung ke bagian upper, jadinya bisa ngepas dan nyaman di kaki bagian tengah. Panjang talinya cukup; nggak panjang banget kayak NB sekarang, tapi nggak pelit kayak Energy Boost 2 (EB2) yang dulu saya pake.

Lalu saya coba berdiri. SGB8 ini empuk dari depan sampai belakang. Tapi sepatu ini kerasa seperti nggak stabil karena agak goyang akibat empuknya. Saya coba pakai jalan di toko, masih terasa agak longgar di tumit, meski lumayan berkurang. Belajar dari pengalaman EB2 terdahulu, saya sengaja pilih ukurang SGB8 kali ini satu nomor lebih besar, yaitu di 44 2/3 atau sekitar 28 cm.

Untuk simulasi berlari, saya coba lompat-lompat di toko. Awalnya di satu kaki beberapa kali, kemudian ganti lompat dengan kaki satunya lagi. Cara ini cocok untuk simulasi cara lari saya yang forefoot strike. Saya jadi yakin bahwa SGB8 ini nggak akan bikin jari saya mentok. Lalu peredaman untuk forefootnya pun bisa saya rasakan secara maksimal.

–⊕–

Kesan Saat Lari

Hal pertama yang saya rasakan adalah boost di SGB8 ini bawaannya bikin saya kepingin ngacir. Terasa sekali membalnya tapi cukup terkontrol sehingga selalu ke arah depan. Turn over kaki saya seperti dipaksa menggunakan cadence yang tinggi. Saya kaget karena merasa sulit mengontrol kaki pada awalnya.

sgb8_foto-02

Di sisi lain, kesan tidak stabil yang saya rasakan di toko tidak terasa saat berlari, meski menurut saya masih lebih stabil EB2. Lalu tumit yang awalnya terasa longgar sudah nggak berasa sama sekali setelah mulai lari. Sayangnya outsole Continental di SGB8 ini tidak seperti yang saya ingat ketika mencoba Adios Boost 2 dua tahun lalu. Saya merasa seperti sedikit kurang grip ke aspal, tapi masih jauh lebih baik daripada outsole Adiwear di EB2 yang sering licin.

Tes lari pertama saya bersama SGB8 selesai setelah 10 km easy run. Telapak kaki saya kini nyeri merata dari depan hingga tengah, namun nggak ada nyeri tumit yang sebelumnya menghantui. Lega rasanya. Setidaknya saya tahu bahwa saya butuh waktu penyesuaian yang agak panjang dengan sepatu ini. Lucunya pada tes lari kedua, kaki saya sudah nggak nyeri sama sekali dan cenderung fresh setelah lari. Ternyata masa adaptasinya cukup singkat.

–⊕–

Bali Marathon 2016

Inilah event terberat yang saya pernah lakukan, sekaligus terberat juga untuk SGB8 ini. Saya pake sepatu ini untuk menempuh jarak full marathon (42,195 km) di event MBM 2016. Pasangannya adalah kaos kaki Injinji tipe yang hyper thin kalo nggak salah. Kaki saya balur dengan Vaseline Petroleum Gel, terutama di semua jari kaki dan tumit. Tali saya gunakan simpul dua kali untuk mencegah lepas di jalan.

sgb8_foto-03

Yang saya rasakan, kaki saya tidak panas akibat cuaca yang terik. Nyeri di kaki lebih disebabkan oleh kekurangsiapan fisik, bukan karena sepatunya. Tali juga mengikat kencang dari start hingga finish. Dari segala bentuk footstrike, mulai subuh hingga badan letih dan form lari berantakan, paling enak menggunakan forefoot strike di SGB8 ini.

Seusai event, kaki saya tidak terasa nyeri selain nyut-nyutan di paha dan betis. Ada satu blister di jempol kaki kanan sebelah luar, tapi ukurannya tidak besar. Untungnya blister ini langsung pecah dan kering, kemungkinan karena Vaseline. Sejauh ini saya masih curiga blister ini karena faktor kaos kaki Injinji yang membungkus masing-masing jari. Entah kalau pakai kaos kaki model normal yang belum sempat saya tes.

–⊕–

Kesimpulan

SGB8 bisa menjawab kebutuhan saya, yaitu sepatu lari untuk kaki supinator. Secara keseluruhan, saya merasa SGB8 adalah sepatu lari yang serba bisa. Boost midsolenya terasa sangat cushioned tapi nggak terasa lembek. Saya juga merasa sepatu ini bisa responsif untuk keperluan speed, meski nggak mungkin bisa selevel sepatu jenis racing flat.

SGB8 sudah menemani saya selama hampir 144,7 km, mulai dari latihan persiapan Bali Marathon hingga saat artikel ini ditulis. Saya belum melihat adanya kerusakan baik di upper, midsole, bahkan outsolenya juga belum terlihat aus. Yang terlihat sudah mulai termakan justru plastik torsion system di bagian bawah. Wajar, EB2 juga dulu begitu.

adidas Supernova Glide Boost 8 saya rekomendasikan untuk pelari dengan kaki supinator, yang butuh sepatu lari untuk mengakomodir kebutuhan latihan hingga lomba, mulai jarak 10K hingga full marathon.

Di bawah ini adalah poin-poin ringkasan hal yang saya suka dan nggak suka dari sepatu ini.

SUKA

  • Kualitas material bagus untuk harga yang saya dapatkan.
  • Bahan upper yang nyaman dan breathable meski bukan Primeknit.
  • Toe box yang relatif lega.
  • Boost midsole yang empuk tapi responsive.
  • Tidak ada sistem cangkang pada area tiga garis yang mengganggu seperti di EB2.

TIDAK SUKA

  • Kurang stabil.
  • Bahan gampang sekali kotor. Debu pun mudah kelihatan.
  • Continental outsolenya kurang ngegrip.
  • Harga normal masih mahal.

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s