Pelajaran Trel & Ultra dari Seorang Veteran

header_pelajarantrelultraveteran

Saya ketemu bacaan bagus tentang lari trel & ultra, yang ditulis di FB oleh Michael Strzelecki. Ia adalah seorang pelari veteran dengan pengalaman lebih dari 30 tahun. Menurut saya, 10 dari 15 poin di tulisan Michael cukup relevan khususnya bagi pemula seperti saya. Untuk itu saya akan coba sadur sebaik mungkin ke dalam bahasa Indonesia.


Tahun 2016 menandakan 30 tahun saya menggeluti olah raga lari trel dan ultra. Inilah beberapa pelajaran yang saya peroleh selama 3 dekade ini (dan saya paham bahwa siapa pun bisa saja punya pandangan yang berbeda).

–⊕–

1. Lari dengan jarak yang lebih jauh dari marathon nyatanya lebih mudah dari yang dibayangkan.

Rahasia yang menjadikan jarak ultra sangat bisa dilakukan adalah kamu hanya perlu berlari sedikit lebih pelan, bahkan berjalan kaki jika ketemu tanjakan yang curam. Jangan lupa makan dan minum di dalam perjalanan. Pada akhirnya, jarak ultra bisa kamu selesaikan. Menurut saya, berlari secara kasual di trel sejauh 50K lebih mudah daripada berlari marathon di aspal atau beton.

–⊕–

2. Lari untuk jarak 100 mil (160,9344 km) itu sangat jauh lebih sulit dari rata-rata yang dibayangkan oleh orang.

Entah apa yang terjadi antara mil ke-50 sampai mil ke-100, yang pasti ada semacam halangan mental yang harus dikalahkan tapi susahnya tak terbayangkan. “Respect the Distance” adalah slogan yang paling jujur saat berada di luar sana. Janganlah sombong.

–⊕–

3. Naik kelaslah secara perlahan dan bertahap, dari 50K hingga 100 dan seterusnya.

Lomba 100 mil mungkin gengsinya bagai marathon bagi road runner, tapi jarak ini benar-benar tidak bisa dianggap remeh. Otot, sendi, dan kelenjar-kelenjar endokrin harus dipersiapkan secara perlahan tapi pasti agar tubuh kita bisa beradaptasi terhadap stress yang luar biasa yang akan dihadapi. Wejangan konvensionalnya, lari 50K dulu 3x sebelum naik kelas ke 50 mil, dan 3x lari 50 mil sebelum naik kelas ke 100 mil. Saya setuju dengan wejangan bijak ini, meski banyak juga orang yang tidak mengikuti. 50K dan 50 mil mungkin masih bisa di-“hajar” langsung, tapi untuk 100 mil kamu harus betul-betul mencari peralatan, perlengkapan, dan nutrisi yang cocok dengan dirimu.

–⊕–

4. Jangan batasi keterlibatan hanya sebagai pelari.

Cari pengalaman lain yang bisa memperkaya sudut pandang kita. Misalnya sebagai crew, volunteer, race director, dll. Dengan demikian kita bisa memahami olah raga ini dari berbagai sudut yang ada dan bisa lebih menghargai lari trel dan ultra.

–⊕–

5. Jangan pusing soal gear, gadget, dan makanan saat trel.

Tidak semuanya harus yang terkini. Di awal munculnya olah raga ini, orang-orang berlari trel pakai sepatu Chuck Taylor, baju flanel, dan celana katun. Tidak ada salahnya makan kurma daripada gel, minum es teh manis daripada Tailwind, dll. Manfaatkan apa yang mudah tersedia untuk kita dan berimprovisasilah.

–⊕–

6. Jangan terjebak dalam kebosanan.

Hal ini sangat bisa terjadi jika kita hanya mengikuti lomba yang itu-itu saja. Carilah pengalaman baru di tempat-tempat baru. Kamu pun bisa bertemu teman-teman baru, baik pelari maupun bukan.

–⊕–

7. Jangan berlari untuk membuat orang lain terkesan.

Larilah untuk membuat diri kamu sendiri terkesan. Saya cuti dari lari selama 8 tahun untuk membesarkan anak-anak, dan berkesempatan mengamati olah raga ini dari sudut pandang orang luar. Orang-orang yang tidak berkecimpung di dalam lari trel dan ultra tidak terlalu terkesan dengan pencapaianmu. “Oh ya? Bagus dong.” Kemudian sudah, tidak ada lanjutannya. Larilah untuk dirimu sendiri.

–⊕–

8. Larilah tanpa GPS sesekali waktu.

Larilah tanpa memusingkan berapa pace-mu, apakah dapat PB, berapa tinggi heart rate-mu, dsb. Jadilah seperti anak kecil yang berlari untuk kesenangan berlari.

–⊕–

9. Jadikan lari trel sebagai bentuk meditasi.

Leburkan jiwa kita dengan alam sekitar, air, pohon, batu, dan langit. Lari trel bukan tentang “conquering” alam atau keberhasilan menyelesaikan lomba. Tapi tentang sebuah kesempatan dan istimewanya menghabiskan waktu menikmati alam bebas dan menghargai pengalaman tersebut.

–⊕–

10. Lari trel dan ultra adalah tentang hubungan antar sesama manusia.

Suatu hari, kemampuan berlari kita akan hilang, badan kita akan menua. Namun teman-teman yang berbagi pengalaman berlari tetap akan ada jauh melebihi jarak yang sudah kalian tempuh. Inilah pencapaian terbesar yang bisa kita raih selama kita bisa berlari baik di trel maupun di jalanan.

–⊕–

Anda bisa baca lengkap 15 poin di postingan asli Michael di FB.
Iklan

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s