Satu Bulan Kemudian: Suunto Ambit3 Peak

header_30daysambit3

Ambit3 memang bukan varian jam GPS sport terbaru. Namun apakah jam ini masih layak untuk dipertimbangkan? Simak ulasan saya berikut ini.

–⊕–

GPS

Alasan terbesar orang membeli Ambit3 (atau merek lainnya di level yang sama) adalah sebagai jam GPS untuk lari trel dan triathlon. Dalam pemakaian saya, GPS Ambit3 bekerja sangat baik jika saya sedang dalam area yang terbuka dan bisa melihat langsung ke langit. Untuk mendapatkan dan mengunci sinyal GPS hanya perlu hitungan detik setelah mengaktifkan pilihan mode olahraga.

Hasil tracking GPS-nya pun terlihat akurat. Sekali waktu saya berlari di trek atletik, lalu saya terpaksa pindah lari ke rumput karena kedelapan jalur lurus 100 meter mendadak digunakan oleh sebuah sekolah. Setelahnya saya lihat hasil tracking GPS-nya menunjukkan rute lari saya yang berubah lebih ke dalam lingkaran di lintasan 100 meter tersebut.

Lain cerita jika keadaan di sekitar saya terdapat bangunan tinggi atau ketika di atas saya terhalang beton. Sinyal GPS akan butuh waktu lebih lama untuk mengunci dan akurasinya pun menjadi terganggu. Akibat yang lebih mempengaruhi kualitas latihan adalah saya akan kesulitan mendapatkan data pace dan jarak yang paling mendekati akurat.

–⊕–

BATERE

Berdasarkan tanggal yang tercatat, Ambit3 terakhir saya charge penuh tanggal 1 Januari 2017. Saya set fitur-fitur pada jam seminimal mungkin tapi masih tetap layak digunakan. Maksudnya memang untuk menghemat batere. Misalnya fitur notification semacam di smartwatch saya matikan, storm warning juga saya matikan, dan tingkat terang backlight saya set di 30%. Tapi akurasi GPS saya set ke setingan Best dengan interval penarikan data per 1 detik.

Ambit3 saya gunakan selain sebagai jam harian, juga digunakan untuk merekam olahraga lari sekitar 3x seminggu dan 99% selalu pairing dengan heart rate monitor. Ambit3 menunjukkan angka batere 10% ketika memasuki tanggal 20 Januari 2017. Lalu saya putuskan untuk mencharge baterenya kembali, kurang lebih sekitar 2 jam untuk mencapai 100%. Saya charge menggunakan kabel data yang dicolok ke laptop.

Keesokan harinya adalah jadwal rest day, jadi seharian hanya berfungsi sebagai jam tangan saja. Di akhir hari, baterenya menunjukkan 98%. Saya asumsikan penurunan 2% jika jam tidak dipakai merekam olah raga, maka  asumsinya batere Ambit3 bisa bertahan hingga 50 hari. Tapi kalau digunakan untuk merekam dengan GPS dan HRM aktif, tebakan saya sepertinya batere Ambit3 hanya akan tahan di bawah 20 jam. Masih cukup untuk lari jarak Full Marathon atau bahkan 50K.

–⊕–

FISIK

Dari segi ukuran, Ambit3 ternyata pas di pergelangan tangan saya. Padahal pergelangan saya termasuk kecil dan kurus untuk ukuran laki-laki. Jam ini cukup nyaman dengan posisi kunci strap di lubang ke 6. Tapi di pergelangan teman lari saya yang perempuan dan lebih kurus, ukurannya jadi terlalu besar. Ia harus memasang kuncinya di lubang ke 2.

Dari segi beban di tangan, Ambit3 terasa sedikit lebih berat dibandingkan dengan Garmin seri Forerunner, Tomtom, dan Polar M400. Hal ini sangat wajar mengingat Ambit3 saya adalah seri Peak yang menggunakan housing dari bahan metal. Sedangkan Forerunner dan Tomtom memiliki konstruksi plastik, lalu Polar M400 secara dimensi lebih tipis daripada Ambit3. Saya belum sempat membandingkan beratnya dengan Garmin Fenix 3, tapi tebakan saya beban keduanya hanya beda tipis.

Saya sendiri sudah terbiasa lari sambil memegang botol minum. Saya juga sudah pernah berlari selama 2 jam menggunakan Ambit3 ini. Yang jadi masalah justru bukan karena beban, tapi karena keringat saya yang licin membuat jam tidak bisa diam di tempat. Sedangkan kalau strap dikencangkan akan terasa terlalu sempit di pergelangan tangan saya.

Bicara tentang strap, sayangnya strap Ambit3 agak mudah lecet. Dari sering lepas pasang jam saja sudah bisa terlihat ada sedikit lecet / tapak bekas besi pengunci. Meski begitu sejauh ini lecetnya tidak mengkhawatirkan. Bahan karet strap juga terlihat ada sedikit putih-putih di lubang-lubangnya. Padahal setiap selesai lari selalu saya bilas dengan air mengalir.

–⊕–

HRM

Heart rate monitor Suunto terdiri dari unit karet dada dengan label Movesense dan unit deteksi dengan label Smart Sensor. Penggunaannya sangat mudah karena penguncian karet menggunakan sistem kait dari besi yang diberi pelapis sehingga tidak menimbulkan alergi (saya kebetulan sedikit alergi besi). Smart Sensornya cukup dipasangkan di tempatnya seperti kancing jepret. Unitnya akan otomatis aktif.

Unit Smart Sensor ini bisa dikatakan yang terkecil di antara HRM tipe strap dada lainnya. Ia juga ringan jadi tidak mengganggu saat digunakan berlatih. Namun karena ukuran kecil ini, harus ekstra hati-hati saat akan disimpan. Saya pernah satu kali kehilangan karena unitnya terjatuh di atas rumput. Sulit sekali mencari dengan kasat mata. Smart Sensor ini untungnya masih bisa ditemukan dengan bantuan senter. Kalau tidak, harga unit gantinya lumayan mahal.

Strap Movesense ternyata agak mudah berkerut karena pemakaian normal. Untungnya sampai saat ini tidak ada keluhan terhadap kenyamanan di badan. Bahan strap dada ini mudah untuk dibersihkan. Cukup bilas dengan air mengalir dan sabun cuci tangan (kalau ada). Lalu mengeringkannya cukup diangin-anginkan biasa. Tanpa bantuan kipas angin, cukup semalam digantung besok paginya sudah bisa dipakai lagi.

–⊕–

YANG MENGGANGGU

Kebiasaan saya memakai jam adalah di tangan kiri. Ambit3 punya 3 tombol di sisi kanan jam. Kalau saya menekuk tangan, tombol yang tengah sering tidak sengaja tertekan oleh punggung tangan. Akibatnya tampilan berubah ke layar berikutnya tanpa saya sadari.

Sebetulnya saya bisa atur agar Ambit3 hanya menampilkan satu jenis display saja di layar utama. Tapi untuk melihat recovery time (yang cukup penting bagi saya), maka saya harus masuk beberapa tahap ke dalam menu untuk menampilkannya. Tidak praktis.

Suara alarm Ambit3 relatif kecil ketika jam sedang dipakai di tangan dan berada di posisi tertentu. Jadi buat Anda yang senang lari pakai earphone, mungkin Ambit3 kurang cocok. Namun kalau sedang dilepas dan jadi alarm bangun pagi malah cukup keras suaranya. Andaikan Ambit3 dilengkapi dengan alarm getar, Ambit3 akan jadi jam GPS yang sempurna bagi saya.

Notifikasi dari hape ala smartwatch adalah hal yang oke tapi tidak penting. Sepenting itu kah urusannya sampai harus mengganggu saat saya menikmati pelepasan stress pekerjaan? Lagipula saya selalu bawa hape saat berlari. Jika memang saya menunggu hal yang penting, saya bisa sigap mengeluarkan hape dari belt lari

–⊕–

KESIMPULAN

Menimbang pesatnya perkembangan teknologi, Ambit3 adalah model yang termasuk lawas (2014). Model lawas merek lain adalah Polar M400, tapi itu pun sudah sangat lebih dari cukup untuk sebuah jam GPS. Di sisi lain M400 masih tetap relevan karena dari sisi software termasuk sering mendapatkan update. Ambit3 pun sama, tapi lebih unggul di daya tahan batere.

Intinya Ambit3 masih sangat relevan hingga saat ini (2017) dan performanya termasuk memuaskan (batere, GPS, dan durabilitas). Yang masih mengganjal adalah harga, karena harga normalnya termasuk sangat premium. Tapi kalau Anda memang mengincar Suunto dan menemukan Ambit3 dengan harga deal yang mantap dari toko yang reputasinya bagus, saya sarankan untuk beli jam ini.

Iklan

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s