Akhirnya 50K di KRB200

gorboman-krb200-50k-header.jpg

Hari Sabtu tanggal 20 Mei 2017 menjadi salah satu milestone dalam perjalanan saya menekuni hobi lari, karena saya berhasil menyelesaikan lari sejauh 50 kilometer di Kebun Raya Bogor (KRB). Begini kesan-kesan yang saya rasakan.

Lari jarak ultra-marathon 50K adalah salah satu bucket list saya. Maka sejak 6 Februari, saya pun mulai mempersiapkan diri. Berbekal training plan 50K untuk pemula yang saya adaptasi dari internet dan tak terhitung berapa kali saya bolos latihan karena berbagai alasan, akhirnya hari yang dinanti semakin dekat.


H-1

Saya menginap 1 malam di hotel Amaris, persis di seberang pintu 3 KRB. Pengambilan race pack pun tinggal jalan kaki ke Lippo Plaza Keboen Raya di sebelah hotel. Di sana juga ada supermarket, jadi saya bisa beli perlengkapan lari yang kurang. Sebetulnya ada undangan carbo loading dari pak Walikota, tapi karena sedang flu maka prioritas saya adalah tidur lebih cepat.

Di kamar, semua perlengkapan lari sudah saya siapkan. Saya memilih jersey EJR dari Puma karena yang paling nyaman untuk lari jauh dari semua jersey yang saya punya. Celana lari saya memilih Kalenji yang sudah terbukti cukup nyaman dan warnanya senada dengan jersey EJR. Kaos kaki saya memilih Injinji yang tipis untuk dipasangkan dengan sepatu lari saya satu-satunya adidas Supernova Glide 8.

gorboman-krb200-50k-ootd.jpg

Selebihnya saya pakai running belt murah meriah merek Kangaroo dari Ace Hardware, kantong plastik dengan segel dari Bagus untuk menyimpan hape dan dompet, dan botol air Aonijie yang kantong depannya saya isi penuh dengan kurma. Awalnya saya ingin pakai calf compression Aonijie, tapi saya berubah pikiran karena saya pikir akan lebih terasa manfaatnya untuk recovery setelah race.

Malamnya saya tidak bisa tidur meski merasa biasa-biasa saja. Sepertinya faktor pakaian karena saya hanya packing minimalis jadi tidak bisa membawa pakaian tidur yang nyaman. Akhirnya mungkin saya hanya tidur 2 jam malamnya dan 3 jam dari siang ke sore setelah minum obat flu. Sejujurnya saya merasa kurang tidur baik kuantitas maupun kualitas.

Karena itu, saya ubah ekspektasi. Average pace 8:00/km? Kelaut aja deh. Hehehe…


Hari Lomba

Setelah check out dari hotel, saya mengikuti beberapa peserta lain yang menyeberang jalan menuju pintu masuk. Yang lain diperiksa, tapi saya dipersilahkan langsung masuk area race central. Suasananya gelap, tidak seperti suasana race yang saya pernah ikuti. Tidak ada hingar-bingar, cenderung sederhana dan humbling. Hanya suara sepasang MC yang mencoba membangun suasana lewat pengeras suara.

Penitipan tas digabung dengan drop bag. Untuk mencegah tertukar, setiap tas dimasukkan ke dalam kantong plastik bening berukuran besar dan dimasukkan kertas bertuliskan nomor bib dan kategori yang diikuti. Sederhana sekali dan saya awalnya agak was-was dengan faktor keamanan barang-barangnya. Ternyata ada panitia dan banyak crew pelari yang duduk di sana, sehingga secara tidak langsung ikut menjaga area drop bag tersebut. Ini adalah pengalaman yang baru bagi saya.

Tiba-tiba saya melihat ada wajah-wajah familiar yaitu teman-teman Training With Friends (TWF) yang juga biasa berlatih di GOR Sumantri Jakarta. Saya pun menghampiri mereka untuk menyapa dan mengobrol. Tak lama saya bertemu 2 orang teman lari dari Extraordinary Jakarta Runners (EJR), yaitu mas Agus dan mas Reza. Kami bertiga ikut kategori 50K. Saya yang larinya paling keong. Hehehe..

18581527_10210988658564885_7839019196652305590_n
Wefie by Reza Hutomo (EJR)

18595600_1383002675126952_6958887329586565350_o.jpg

Mendekati jam 5:30, Kang Rudi Rochmansyah selaku Race Director memberikan perintah agar para peserta bersiap di belakang garis start. Saya sengaja mengambil posisi agak belakang karena tahu diri. Sudah newbie lari ultranya, newbie pula lari di dalam KRB.

Lomba Dimulai

Pukul 05:33, peserta KRB200 jarak ultra marathon dilepas bersamaan. Saya memilih strategi aman bagi pemula: jalan kaki di setiap tanjakan dan lari di semua turunan. Untuk yang kakinya gampang keram seperti saya, memang lebih baik tidak ngotot di tanjakan. Selain itu, di loop pertama saya tidak mau nge-push sedikit pun. Saya manfaatkan loop ini untuk mempelajari rute sekaligus menghemat tenaga. Faktor kurang tidur masih membuat saya khawatir.

18700760_10208956354418034_4861989288271583205_o.jpg

Rute berupa loop di dalam KRB ini ternyata sangat hilly. Perkiraan elevasi yang saya lakukan ternyata meleset. Meski di awal kami disuguhi dengan turunan yang agak curam, namun selalu ingat bahwa setiap ada turunan pasti ada tanjakan. “Turunannya aja kayak begini, tanjakannya kayak apa ya?”, pikir saya.

Patokan Dalam Loop

Untuk mempermudah mencerna rute dari sisi mental, saya mencari patokan yang khas agar bisa mengetahui dan menyadari progress saya di dalam sebuah loop. Beberapa segmen punya patokan khas bagi saya.

18623481_10208950634115030_5383316305964807065_o.jpg
Selain mencerna rute, saya juga berusaha mencerna kurma di mulut.

Ada seorang marshal yang gemuk dan ceria. Mungkin dia panitia yang paling cerita dan tak pernah absen menyemangati. Setiap bertemu dia adalah penanda awal segmen rute masuk ke “hutan” yang menanjak dengan permukaan lari cobble stone yang membuat telapak kaki saya sakit. Setiap melalui segmen ini saya selalu berjalan kaki.

Ada sedikit catatan di segmen ini. Di loop 1, saya merasa melewati rute yang tidak terlalu menanjak. Jadi cobble stone tidak terlalu bermasalah bagi telapak kaki. Tapi mulai loop 2 dan seterusnya, rute ini bergeser ke cabang yang kanan. Dari peta tracking di Strava saya pun terlihat perbedaan ini. Entah ini disengaja atau tidak. Saya sendiri hanya berlari mengikuti pelari di depan saya, dan saya yakin dia juga demikian.

gorboman-krb200-50k-loop1.jpg

Setelah tanjakan cobble stone selesai dan elevasi mulai datar adalah patokan bagi pelari memasuki area piknik piknik keluarga dan sekolah. Ruameee! Saya sering harus mengalah dan berzig-zag menghindari anak-anak yang sedang bermain dan bercanda. Di ujung jalan, saya disambut marshal yang berdiri di atas platform kayu, menandakan akhir dari cobble stone dan kembali ke jalanan aspal.

Segmen berikutnya ini para pelari disuguhi pemandangan megahnya Istana Bogor di sisi kanan. Di ujung jalan ini adalah pagar belakang Istana yang menjadi patokan bawa sebentar lagi saya akan tiba di WS 2.5 km yang teduh di bawah pepohonan.

18620693_1383628348397718_6886512525781886578_o.jpg

Lanjut dari WS 2.5km, mungkin rute terberat karena cenderung membosankan. Pemandangannya biasa saja, cukup ramai pula dipadati pengunjung KRB. Di ujungnya saya bertemu dengan perempatan persilangan di mana saya harus berbelok ke kanan. Saya menjadikannya patokan bahwa sebentar lagi akan memasuki segmen rute yang hanya lurus panjang, sedikit menanjak, tapi teduhnya enak sekali.

Lalu saya akan melewati patok penanda 4 km. Artinya tak lama lagi saya akan bertemu tanjakan yang cukup bisa menyiksa betis saya sehingga saya harus berjalan kaki. Di ujungnya, saya akan bertemu sebuah segmen singkat yang datar sebelum turunan yang paling asyik untuk nge-bomb downhill (lihat latar foto di bawah). Turunan ini pun saya jadikan patokan bahwa sebentar lagi saya akan mencapai race central.

18699578_10208956331617464_1109770239208570801_o.jpg

Perang Mental

Berlari dalam rute berupa loop sejujurnya lebih berat bagi mental daripada bagi fisik. Godaan untuk menyerah sangat tinggi sekali. Bahkan godaan untuk berbuat curang pun (memotong rute) kerap muncul di pikiran, namun mustahil dilakukan. Hantu DNF (Did Not Finish) benar-benar kuat di event KRB200 ini.

18623405_1383636015063618_245323812953535868_o

Godaan pertama muncul setelah saya menyelesaikan 25 km / 5 loop. Di tengah jalan saya bertemu teman lari, kang Puad Paud dari BabatuRun yang terlihat mulai kesulitan. Ternyata dia sudah 1 loop lebih dulu di depan saya. Tiba-tiba saja godaan DNF jadi hilang.

Godaan berikutnya kerap muncul setelah 30 km / 6 loop. Untungnya saya banyak bertemu pelari-pelari lain dan kebetulan mereka juga bisa diajak ngobrol sambil lari. Ada mba Iin (podium 3 female 100K) yang mengajari saya power walk. Ada mas Slamet dari BSD yang sempat bikin khawatir karena nampaknya beliau kurang minum. Dan ada satu pelari lagi (kayaknya mas Gregorius Prasojo) yang sedang berusaha di kategori 200K.

gorboman-krb200-50k-mentalbattle.jpg
Photo by om Budi Utama.

Godaan demi godaan berhasil saya lalui dengan tabah. Jadi ingat hashtag-nya mba Eni Rosita, “#TabahSampaiAkhir”. Hahaha! Yang saya lakukan hanya mengingatkan diri untuk terus berlari, seperti:
“Ayo! Satu loop lagi baru boleh DNF.”, atau
“Ayo! Tanggung sudah 40K masa DNF.”, dan
“Ayo! Average pace-nya masih bisa under COT.”

Semangat terakhir itu muncul karena saya takut kena COT (Cut Off Time). Di ingatan saya, untuk finish 50K di bawah 8 jam perlu average pace tidak lebih dari 8:48/km. Di loop terakhir saya hanya konsen melihat angka average pace di jam yang naik turun di batas akhir tersebut. Hingga akhirnya saya bertemu lapangan hijau dengan air mancur pertanda finish sudah dekat. Saya lihat angka durasi di jam, ternyata masih ada setengah jam lebih sebelum COT. Lho? Berarti saya salah ingat angka average pace. Hahaha! Konyol. Jadilah saya finish “strong”, lebih tepatnya finish panik sih.

18620361_10212870490506686_6225745200209731876_n
Wajah finish panik tapi lega. Hahaha! (Photo by om Budi Utama)

Penilaian Saya Untuk KRB200

Rute loop KRB200 saya anggap cukup berat untuk pemula jarak ultra. Bayangkan harus menempuh rute yang hilly, diulang 10 kali, dan cut off time-nya hanya 8 jam. Perbandingannya, jarak Full Marathon di Bali Marathon saja COT-nya 7 jam. Strategi pacing-nya benar-benar harus lebih matang.

Tingkat kerapian race organizer saya acungi jempol. Mulai dari pintu masuk, drop bag, para marshal, water station, pencatat loop di race central, petugas medis. Mungkin ini adalah race yang paling nggak ada complain-nya bagi saya dalam beberapa waktu belakangan ini.

18620539_1383343818426171_3086056703401148972_o.jpg

Apakah saya merekomendasikan race ini? Ya dan tidak. Ya, hanya jika Anda sudah siap untuk disiksa secara mental dan fisik. Tidak, jika Anda tipe yang cepat bosan bahkan untuk berlari loop di trek lari atletik.

Di bawah ini ada beberapa foto dari hape saya. Masing-masing saya beri caption supaya lebih ada konteksnya.


Special Mention

Terima kasih sangat kepada rekan-rekan yang telah meluangkan waktu untuk mengabadikan berbagai momen KRB200, khususnya yang karya fotonya saya tampilkan di artikel ini: Dandi Sahman, Eldi Sudradjat, Yudhi Sukarta, om Budi Utama, dan Reza Hutomo.

Galeri foto event KRB200 lebih lengkap dapat Anda lihat di Facebook group Bogor Runners dan RunGrapher.

 

Iklan

5 tanggapan untuk “Akhirnya 50K di KRB200

  1. Hatur nuhun reviewnya ya.
    Semoga race buat pecah virgin ultranya berkesan.
    Mohon maaf untuk kekurangan yang ada dan semoga ketika dikenang, lebih banyak kenangan indahnya yang membawa senyum :)

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s