MAF: Lanjut atau Stop?

header_mafupdate

Berlatih lari dengan menggunakan metode tertentu bisa berhasil bagi sebagian orang, tapi tidak bagi sebagian lainnya. Di sisi yang berhasil pun sebagian mencapai hasil yang signifikan dalam waktu yang singkat, sementara sebagian lainnya butuh waktu lebih lama. Di manakah posisi saya?

Ada beberapa kebiasaan lari yang secara data terlihat jelas perkembangannya. Contoh kecilnya saat saya melakukan warm up jog selama 15 menit sesuai anjuran metode ini. Perkembangannya antara lain:

  • Awalnya saya hanya bisa berjalan kaki untuk menjaga heart rate di angka aman. Sekarang saya sudah bisa easy jog di fase ini dan heart rate sama sekali belum menyentuh angka MAF. Artinya badan saya sudah mulai bisa berlari lebih cepat dengan heart rate yang lebih rendah.
  • Awalnya 15 menit hanya dapat 2 – 3 putaran trek lari jalur terluar (sekitar 450 m), sekarang sudah bisa dapat 1,5 km – 1,6 km atau satu mil. Artinya saya juga sudah mulai bisa berlari sedikit lebih jauh dengan effort yang sama.

Tapi bagaimana dengan prakteknya di skenario lari di luar latihan? Pengamatan saya terhadap effort yang dirasakan saat KRB200 menunjukkan adanya peningkatan yang cukup membuat saya senang.

Sebelum lanjut, saya berikan data untuk pembanding. Tahun 2016 saat mengikuti Bali Marathon, saya finish dengan waktu 6:51:xx. Beberapa faktor yang mengganjal adalah cuaca panas, keram berkepanjangan, dan tentunya faktor mental. Tapi ada juga faktor pace lari.

Selama latihan, saya lebih sering berlari di atas level aerobik. Saya ingat betul akan ketidaksabaran saya selama berlatih, terutama saat melihat pace yang diminta oleh training plan di aplikasi MyAsics. Imbasnya, secara mental saya merasa sanggup lari pada rentang pace tersebut di hari perlombaan. Nyatanya, saya bonk di KM 25.

Fast forward ke persiapan KRB200, saya lebih sabar dalam latihan persiapan sambil mencoba mengimplementasikan metode Maffetone. Tidak selalu berhasil sih, tapi tidak saya push juga hingga terlalu jauh melampaui level aerobik yang diajurkan. Semuanya dalam easy effort dan setiap terasa ‘aneh’ di dada, saya selalu pelankan lari, berjalan, bahkan berhenti sejenak jika perlu untuk menurunkan heart rate.

Tidak ada perbedaan signifikan dalam hal nutrisi di kedua persiapan ini. Jika di Bali saya banyak sekali porsi berjalan kaki, di KRB pun sebetulnya sama saja. Bahkan cukup banyak waktu saya terbuang untuk berhenti lebih lama berhenti di setiap WS. Dari segi rute, menurut saya KRB lebih sadis daripada Bali Marathon.

Selain untuk minum dan makan, sekali berinteraksi agak lama karena ketemu teman lari yang sudah lama tidak berjumpa. Sekali waktu saya numpang berbaring sejenak untuk melepas lelah dan menurunkan heart rate. Serta dua kali mampir ke medic untuk mencoba mengatasi keram di upper body. Banyak juga ya berhentinya?

Meski begitu, hasil yang terekam di Strava saya untuk jarak full marathon di event KRB200 adalah 6:06:51. Artinya dengan segala leyeh-leyeh yang saya lakukan, saya berhasil mengikis catatan waktu FM saya sebanyak kurang lebih 45 menit.

Maffetone berbuah PB. Alhamdulillah…

Lanjut MAF-nya? Ya jelas lanjut dong. Next time semoga saya bisa lebih strong lagi. :)

Iklan

2 tanggapan untuk “MAF: Lanjut atau Stop?

    1. sebelum kenal MAF, betis sama tumit pasti sakit2 setiap abis lari. sekarang ngga ada sakit2nya. pas KRB kemarin malah upper body yg sakit2, kurang strength training :D

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s