Ulasan: Salomon Sense Mantra 3

Salomon adalah merek yang identik dengan kegiatan outdoor, termasuk lari trel. Tapi mereka juga punya jajaran sepatu lari road. Salomon Sense Matra 3 ini masuk ke kategori hybrid. Seperti apa ya rasanya?

Salomon menggunakan istilah Citytrail untuk kategori hybrid ini. Tapi meski terkesan 2 in 1, dari awal saya merasa Salomon Sense Mantra 3 (SSM3) ini lebih unggul di road. Penggunaan trel pun sepertinya terbatas untuk jalur yang ringan, bukan yang teknikal.

—⊕—

Impresi Fisik

Saat pertama melihat di toko, ada dua varian warna yang tersedia. Kombinasi merah bata, kuning, putih; dan varian warna yang satunya lagi lebih low profile, kombinasi abu-abu dan biru. Tapi untuk ukuran kaki saya, hanya warna ini yang tersedia. Meski warna nya terlihat ngejreng, tapi pada kondisi nyata terlihat wajar saja.

gorboman-review-salomon-sense-mantra3-sideview
Dari samping terlihat toe box yang lega ke atas.

Saat pertama kali memegang SSM3 di tangan, saya merasa sepatu ini termasuk ringan. Toe box-nya cukup lega, baik ke samping maupun ke atas. Di bagian ujung kaki ada lapisan yang lebih tebal untuk melindungi jari dari benturan terhadap benda-benda yang wajar ditemukan di trel.

gorboman-review-salomon-sense-mantra3-detail-1

Tekstur heksagonal di bagian belakang sepatu ini menjadi daya tarik tersendiri bagi saya. Secara estetika jadi terasa beda dari sepatu-sepatu lari yang pernah saya punya maupun yang saya lihat di toko-toko sepatu.

Bagian belakang ini juga terasa agak rigid, tapi tidak sampai mengganggu di area pergelangan kaki. Yang saya rasakan adalah stabilitas saat kaki saya dalam posisi mendarat.

Ciri khas sepatu lari Salomon yang diterapkan di SSM3 ini adalah Quicklace, di mana proses mengikat tali sepatu jadi lebih cepat. Cukup tarik dan kencangkan penahannya, lalu sembunyikan sisa tali yang panjang di dalam kantong khusus yang disematkan di bagian lidah sepatu. Kantong ini berbahan stretch sehingga sisa tali tetap aman di dalam selama saya berlari.

Bagian upper yang digunakan di SSM3 ini termasuk breathable dengan sedikit overlay. Biasanya, overlay di sepatu olahraga berguna untuk memberikan struktur pada sepatu, jadi upper sepatunya nggak lemas. Dari sisi dalam, upper-nya terasa nyaman saat berlari.

Tapi Salomon menerapkan teknologi Endofit, yaitu semacam bagian stretch di dalam sepatu yang menyambungkan lidah sepatu ke bagian sisi sepatu. adidas SGB saya yang lama juga menggunakan konstruksi semacam ini. Efek yang terasa adalah lebih nyaman untuk kaki kita karena sepatu akan selalu berasa pas. Lalu lidah sepatu juga tidak akan “lari-lari” dari posisinya.

SSM3 menggunakan insole dari Ortholite. Sepengalaman saya, insole merek ini membantu sepatu jadi terasa lebih cushioned. Bisa jadi kombinasi ini dipilih untuk kompensasi sol yang secara keseluruhan cenderung responsif. Sebagai catatan, kalau tidak salah, sepatu League Ghost Runner juga menggunakan insole dari Ortholite. Teman-teman saya yang pakai Ghost Runner mengatakan solnya empuk.

Berbicara mengenai sol, sebagai sepatu hybrid SSM3 memiliki setidaknya 2 macam sol luar yang didistribusikan menggunakan 4 warna seperti yang terlihat pada foto di bawah ini.

gorboman-review-salomon-sense-mantra3-sole-1

Bagian berwarna kuning mirip sol luar sepatu New Balance 870 saya yang lama, sebuah road shoe yang dapat digunakan di trel ringan. Bagian yang berwarna putih adalah foam yang sama dengan midsole. Bagian warna hitam adalah karet keras yang biasa ditemukan di sol luar sepatu lari road. Sepertinya berfungsi sebagai crash pad saat kaki sudah mulai letih. Tapi dari teksturnya jelas terlihat bahwa SSM3 ini agak kurang performanya untuk downhill di trel.

Bagian warna merah inilah yang karakternya lebih cenderung untuk trel. Pertama, dari bentuk lugs-nya yang memberi daya cengkeram ekstra untuk kondisi uphill. Bagian ini diberi nama Contagrip oleh Salomon. Lalu ada bagian abu-abu (Profeet Film) yang merupakan rock plate atau plat pelindung telapak kaki dari benda tajam. Lalu terlihat juga ada label bertuliskan “OS Tendon” yang merupakan metode Salomon untuk menciptakan daya lontar atau istilah kerennya: energy return.

gorboman-review-salomon-sense-mantra3-sole-2gorboman-review-salomon-sense-mantra3-sole-3

—⊕—

Impresi Saat Lari

Salomon Sense Mantra 3 ini memiliki bobot sepatu yang ringan. Biasanya kaki saya suka “malas” untuk digerakkan mengangkat tumit. Tapi di sepatu ini belum pernah saya merasakan “malas” tersebut. Hasilnya cukup terasa untuk kembali menambah kecepatan lari di saat performa saya sedang mengendor.

SSM3 ini terasa responsif tapi empuk.

Awalnya terasa aneh untuk rasa di kaki saat saya lari. Dua kutub yang berbeda yang baru kali ini saya rasakan di sepasang sepatu lari. Responsif yang saya rasakan adalah kaki saya seperti terlontar ke depan tapi bukan terasa membal seperti pada Boost-nya adidas. Dan sisi empuknya paling terasa saat kaki saya menjejak dalam keadaan mid-foot / full foot. Meski tidak seempuk Boost, tapi di kaki saya sedikit lebih empuk dari New Balance 870 saya yang dalam kategori sepatu sudah termasuk cushioned.

Saya merasa paling enak berlari di SSM3 ini secara fore-foot hingga mid-foot strike. Sebetulnya masih bisa untuk heel strike, tapi harus benar-benar mendaratnya di bawah titik beban tubuh. Jika over stride, rasanya sangat mungkin imbasnya langsung terasa di lutut dan tulang kering.

Daya cengkeram SSM3 ini sesuai yang saya perkirakan, yaitu tidak untuk permukaan yang licin. Misalnya besi bolong-bolong penutup saluran air yang sedang dalam kondisi basah. Tapi untuk aspal, konblok, hingga ke tanah padat (seperti trek GOR Soemantri), gripnya sangat bisa diandalkan.

Saat ini saya sudah berlari dengan total 56.7 km menggunakan Salomon Sense Mantra 3 ini. Saya membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan berbagai fitur dari sepatu ini, misalnya Quicklace dan Endofit, untuk mendapatkan pemakaian yang paling nyaman. Khusus Endofit, saya masih belum bisa merasa nyaman setiap saya memasukkan kaki ke dalam sepatu ini. Tapi rasa itu hilang dengan sendirinya setelah saya mulai berlari.

SSM3 memang bukan sepatu keluaran baru. Jadi, dari pemakaian sejauh ini baru ada satu area kecil di mana lemnya agak sedikit terkelupas. Sangaat minor dan tidak mempengaruhi penggunaan sepatu secara signifikan.

—⊕—

Kesimpulan

Secara keseluruhan saya sangat terkesan dengan Salomon. Saya bisa merasakan dan mengerti apa yang selama ini disukai oleh para pelari trel dari sepatu Salomon. Sayangnya, Salomon adalah merek premium yang artinya harga produk-produk mereka pasti mahal juga. Meski begitu, saya tetap akan ikut merasa excited terhadap produk-produk mereka saat ini hingga ke depannya.


Punya komentar atau pertanyaan? Jangan sungkan untuk menuliskan di kolom komentar. Juga jika Anda merasa ulasan ini bermanfaat, mohon bantuannya untuk share artikel ini ke media sosial Anda. Terima kasih.

Iklan

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s