Sumber Energi: Dulu Gula, Kini Lemak

Sebagai seorang yang suka makan, bagi saya ide menjalankan diet itu tidak menarik karena saya tidak ingin terlalu membatasi diri dalam menikmati hidup. Di sisi lain, sebagai seorang yang hobi berlari dan mencoba memraketkkan metode Maffetone, saya juga sadar bahwa tanpa diet saya bisa memperoleh personal best. Muncullah rasa penasaran, bagaimana jadinya kalau saya juga menjalankan diet dari metode ini ya?

Saat persiapan KRB 50K, saya menjalankan latihan metode Maffetone secara parsial. Saya hanya mengikuti latihan berdasarkan heart rate saja, tapi tidak mengikuti dietnya. Hasilnya alhamdulillah ada perbaikan catatan waktu di jarak full marathon.

Seorang teman lari saya pernah berkata, “Kang, padahal kalo elo makannya diatur, pasti bisa lebih bagus lagi (catatan) waktunya”. Kata-kata dia ini seperti menempel di kepala saya. Akhirnya saya beranikan diri untuk keluar dari comfort zone dan mencoba menjalankan fase adaptasi metode Maffetone.

Apa maksudnya fase adaptasi?

Metode Maffetone menekankan pada penggunaan lemak sebagai sumber energi saat kita berolahraga. Dr. Phil Maffetone, pencetus metode ini, menemukan bahwa cadangan lemak di tubuh seseorang itu sangat banyak dibandingkan dengan cadangan gula. Bahkan atlit lari yang kurus-kurus pun cadangan lemak di tubuhnya termasuk cukup untuk dijadikan sumber energi dalam berlari jarak jauh.

Untuk itu, dibutuhkan sebuah fase adaptasi di mana tubuh dikondisikan agar mendapatkan asupan karbohidrat yang minim, sehingga ia akan mencari lemak sebagai sumber energi. Saya juga memperhatikan dan mencatat kondisi-kondisi tubuh saat sebelum memulai, selama menjalankan, dan setelah fase adaptasi selesai. Jika ada perubahan yang sifatnya terlalu drastis atau justru merugikan kesehatan tubuh, maka saya harus mencatat dan berusaha fleksibel dengan diet yang dijalankan.

Fase adaptasi ini mirip sekali dengan diet keto (ketogenik / ketofastosis) yang sedang populer saat ini. Namun setelah fase adaptasi ini selesai, metode Maffetone justru tetap menyebutkan adanya kebutuhan karbohidrat yang dilakukan secara strategic. Artinya, konsumsi dibuat minimal pada saat low season dan ditingkatkan saat menjelang aktivitas berat (seperti peak long run dan menjelang race day).

Kunci selama fase adaptasi

Secara garis besar, saya diminta untuk tidak memakan makanan tertentu dan juga diperbolehkan memakan makanan tertentu. Bedanya dengan diet pada umumnya, selama fase ini saya tidak boleh kelaparan. Lalu saya juga harus sarapan paling lambat 1 jam setelah bangun tidur.

Skala perbandingan komposisi menu saya sehari-hari (lagi-lagi) idealnya 70% lemak dan 30% protein. Prioritasnya adalah lemak dan protein hewani alias yang berasal dari hewan. Meski begitu, saya tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan olahan, misalnya sosis, nugget, burger, bahkan keju kemasan slice. Minuman juga dibatasi air putih, kopi tanpa gula, atau teh tawar. Buah-buahan sama sekali tidak boleh, kecuali alpukat.

Apakah saya merasa bosan dan tersiksa? Banget! Apalagi di minggu pertama. Namun saya coba untuk konsisten dan untungnya orang-orang di rumah dan di kantor pun mendukung usaha saya.

Apa saja menunya?

Sebetulnya Anda bisa saja mampir ke halaman ini dan membaca versi aslinya dari Dr. Maffetone. Tapi, karena saya tinggalnya di Indonesia dengan segala keterbatasan yang bisa dibilang agak jauh dari ideal, maka saya hanya mengonsumsi makanan-makanan di bawah ini:

Sarapan:
Brokoli, kol, wortel, keju cheddar, dan telur. Kadang telur rebus, kadang sunny side up, kadang setengah matang.

Makan siang / malam:
Soto betawi campur, alpukat, ayam bakar, tumis sayuran hijau, rendang, telur balado, tahu, tempe, soto daging, ikan.

Minuman:
Air putih biasa (tidak dingin), teh tawar, kopi hitam tanpa gula.

Saya juga mencoba mengikuti saran teman saya yang sudah lebih dulu sukses diet Keto, yaitu dengan intermittent fasting dan konsumsi virgin coconut oil (VCO). Intermittent fasting yang saya lakukan adalah puasa makan dan hanya minum air putih mulai jam 8 malam sampai besok pagi (dengan kata lain: tidak ada snack malam). Untuk VCO saya minum 2 sendok makan sebelum makan.

Bagaimana hasilnya?

  1. Berat badan normal saya biasanya antara 66 – 67 kg. Saya menimbangnya di pagi hari setelah mengosongkan isi perut. Setelah 2 minggu fase adaptasi, berat badan normal saya turun ke 64 kg.
  2. Saya merasa tidak mudah ngantuk dan tidak merasa lemas. Rasa di dada dan diafragma agak mirip dengan rasa saat berhenti merokok.
  3. Di fase ini saya masih sering kalah dalam menjalankan latihan lari. Memang ada faktor kondisi adaptasi perubahan sumber energi baru. Tapi saya merasa lebih banyak kalah secara faktor mental, sementara tubuh saya masih sanggup berlari.

Setelah melewati fase adaptasi ini, saya mulai kembali memasukkan karbohidrat ke dalam diet saya. Tapi jumlahnya saya atur agar tetap di bawah porsi sebelum adaptasi. Selama 2 minggu saya tidak memiliki cheat day. Kini saya memberikan jatah cheat day (yang tetap diatur porsinya) hanya 1 hari dalam seminggu. Jika tidak saya gunakan, jatah di minggu berikutnya tetap hanya 1 hari.

Itulah sedikit catatan saya selama menjalankan fase adaptasi metode Maffetone. Apakah Anda tertarik mengikuti atau tertarik hanya untuk menurunkan berat badan saja? Beri tahu pendapat Anda di kolom komentar. Dan jangan lupa untuk klik like, share, dan mungkin subscribe jika Anda menyukai konten-konten di blog saya ini.

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.