Setelah 100 km: Kalenji Run One Plus

Kadang kala, ulasan mengenai suatu produk akan berubah setelah kita menggunakan produk tersebut untuk jangka waktu yang lama. Karena itu lah saya memutuskan untuk menuliskan kembali ulasan Kalenji Run One Plus setelah penggunaan 100+ km.

Untuk memudahkan mencerna ulasan ini, maka tulisannya saya bagi menjadi beberapa segmen.

Kualitas Bahan

Selama ini saya hanya menggunakan sepatu ini untuk berlari di road. Jadi hanya bertemu aspal, konblok, dan trotoar berkeramik. Bisa jadi kondisinya tidak sekasar trek atletik di GOR Sumantri yang lebih berupa tanah kering. Meski begitu, 100 km tetaplah 100 km.

Sengaja saya tidak mencuci sepatu ini untuk memperlihatkan kondisi yang apa adanya. Secara keseluruhan, bahan yang digunakan di sepatu ini masih terlihat dalam kondisi baik. Sepintas bagian upper tidak terlihat seperti sudah dipakai 100 km. Bagian midsole berwarna putih pun tidak sekotor ekspektasi saya di awal. Hanya warna oranye pada liner dalam yang terlihat agak pudar.

krop-100k_01krop-100k_02krop-100k_07

Durabilitas

Hanya di beberapa bagian upper saja yang terlihat ada benang-benang yang mulai lepas dari tempatnya. Tapi menurut saya sih tidak signifikan terhadap kegunaan dari sepatu ini. Semua titik yang biasanya memang ditempel menggunakan lem juga tidak menunjukkan adanya keausan. Durabilitasnya cukup impresif untuk sepatu lari di harga ini.

krop-100k_03krop-100k_04

Bicara durabilitas pasti membahas out sole. Meski sepatu ini memiliki grip yang tidak sebaik sepatu lari dari merek-merek mahal, tapi outsolenya masih terlihat baik seperti saat baru pertama digunakan. Titik-titik keausan terlihat minim sekali. Anda bisa lihat sendiri detailnya pada foto-foto di bawah.

krop-100k_05krop-100k_06

Kenyamanan

Setelah 60 km, sepatu ini mulai “menjinak”. Setelah masuk 100 km, saya mulai bisa merasakan di bagian mana saja yang bisa dibilang empuk dan mana yang tetap keras. Ya, butuh mileage sepanjang itu untuk beradaptasi dengan sepatu ini.

Di bagian upper, secara umum saya tidak merasakan masalah yang berarti. Hanya 2 hal yang bagi saya terasa suka mengganggu:

Pertama adalah talinya yang cukup panjang tapi tidak terlalu lemas. Jadi sering kali tali ini terasa mengetuk punggung kaki saya dan rasanya seperti tali sepatu yang lepas. Ketika saya tengok, ternyata masih terikat dengan baik. Hal ini terkadang cukup mengganggu di saat saya ingin berkonsentrasi untuk “be in the moment”.

Kedua adalah ukuran sepatu, yang menjadi akar ke masalah lainnya. Saat saya beli, saya biasa menggunakan patokan ukuran centimeter. Ternyata sepatu ini memiliki struktur yang berbeda: ia agak panjang di depan, pas di bagian midfoot, dan sedikit longgar di tumit. Akibatnya, tumit saya suka terangkat sedikit selayaknya pada sepatu yang kebesaran.

Sayangnya sepatu ini tidak punya eyelet yang biasa dimanfaatkan untuk ikat heel lock. Masalah inilah yang membuat saya agak kesulitan menambah kecepatan dan terkadang menyebabkan plantar fasciitis ringan setelah berolah raga. Karenanya, untuk menjaga kenyamanan dan menghindari cidera, saya menjaga lari di zona aerobik saja.


Kesimpulan Setelah 100 km

Pengalaman ini membuat saya menilai bahwa jika merekomendasikan Kalenji Run One Plus, maka saya harus katakan bahwa ia adalah sepatu yang relatif keras. Menurut saya, Kalenji Run One Plus cocok untuk beberapa kalangan pelari:

  1. Pelari pemula dan rekreasional yang selayaknya tidak terlalu memusingkan aspek teknis dalam berlari apalagi sepatu lari. Yang penting harganya ramah di kantong dan bisa jogging santai sambil menikmati suasana.
  2. Anak usia sekolah. Di usia tersebut, tubuh mereka itu hebat sekali. Mereka tidak rentan cidera seperti orang dewasa. Para orang tua pun bisa sedikit bernafas karena harga sepatu ini termasuk murah di kelasnya, tapi kualitasnya tidak murahan.
  3. Pelari serius dengan dana terbatas. Saya rasa tidak perlu banyak penjelasan. Budget tidak besar, tapi ingin sepatu lari yang bagus.
  4. Pelari yang ingin punya kaki yang kuat. Sepatu yang keras bukan berarti jelek. Bisa jadi kaki kita yang terlalu manja karena selalu pakai sepatu lari dengan sol yang empuk.

Salah seorang teman saya pernah bercerita tentang obrolannya mengenai sepatu zero drop dengan salah satu pelari trel level atas. Si pelari trel itu pada akhirnya berkata, “Sebenarnya sepatu lari merek mana pun tidak masalah…”

Ia melanjutkan, “Because it’s not the shoes; it’s your legs and feet”

Semoga bermanfaat! :)

2 tanggapan untuk “Setelah 100 km: Kalenji Run One Plus

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.