Ulasan New Balance Summit Unknown

Setelah saya terpaksa memensiundinikan adidas TR8.1, saya nggak punya sepatu lari trail lagi. Memang waktu itu saya masih punya Salomon Sense Mantra, tapi untuk kondisi trail di Indonesia yang cenderung teknikal menurut saya si Mantra nggak cocok. Akhirnya pilihan saya jatuh ke New Balance Summit Unknown.

Summit Unknown adalah seri lanjutan dari Vazee Summit. Kali ini NB menghilangkan nama Vazee dan cukup pakai nama Summit Unknown saja. Sepertinya memang nama Vazee sudah tidak lagi digunakan di semua line upnya. Misalnya untuk road, NB memunculkan seri Fuel Core. Apa alasannya? Saya juga nggak tahu. Tapi mari kita balik lagi ke Summit Unknown.

Garis besar

Secara garis besar, Summit Unknown ini punya profil sepatu lari jenis racer. Ternyata memang Summit Unknown dibuat berdasarkan sepatu road NB yaitu seri 1400, menurut beberapa sumber. Hanya saja menurut saya sih desain grafisnya lebih keren Summit Unknown.

comparison

Gambar perbandingan yang saya buat di atas memperlihatkan keduanya punya bentuk yang mirip, bahkan sama-sama menggunakan midsole Revlite. Keduanya juga memiliki bobot yang ringan sehingga enak untuk dibawa berlari pada pace yang lebih tinggi.

Namun karakter tipe racer ini juga termasuk stack height yang lebih dekat dengan tanah. Artinya kaki saya lebih bisa merasakan permukaan yang saya jejak (ground feel).

Upper

Bagian upper dari Summit Unknown berupa jaring-jaring dari bahan yang cukup tahan siksa dari pelari selebor seperti saya. Tersandung batu atau akar adalah hal yang sering saya alami dan bagian upper Summit Unknown mampu bertahan dengan tingkat kerusakan yang sangat minim.

Di sisi depan, ada Toe Protect atau lapisan bahan TPU yang agak tebal. Sesuai namanya, bagian ini berfungsi untuk melindungi ujung jari kaki dari benda-benda keras yang mungkin terantuk saat berlari. Karena sejantan-jantannya lelaki, tapi kalau jari kaki (apalagi kelingking) ngehajar batu sih tetap aja nangis.

Meskipun tahan banting, upper dari Summit Unknown ini tidak tebal, meski nggak bisa dibilang tipis juga. Karenanya upper sepatu ini relatif fleksibel di kaki saya. Begitu juga dengan heel cup-nya yang tingkat kakunya hanya sedikit.

Bagian lidah sepatu Summit Unknown dibuat dengan konstruksi booty. Artinya, lidah sepatu nyambung ke badan sepatu. Rasanya mirip seperti pakai kaus kaki. Sayangnya lidah sepatunya kurang panjang sedikit.

Midsole & outsole

Summit Unknown menggunakan midsole jenis Revlite. Midsole ini termasuk responsif dan tetap bisa memberikan cushioning yang cukup untuk menyerap tumbukan kaki dengan tanah.

Untuk outsolenya, Summit Unknown masih menggunakan teknologi Hydrohesion. NB mengklaim bahwa Hydrohesion bisa memberikan grip yang sangat baik di segala medan. Menurut saya, untuk kondisi trail khususnya di Sentul, Jawa Barat, dan tidak hujan, klaim tersebut cukup valid. Mungkin saya akan update saat ada kesempatan berlari trail di saat hujan.

Bagian bagian dalam outsole ini ada lubang-lubang berwarna putih. Saya yakin di dalamnya adalah tempat NB menyematkan rock plate. Meski begitu, saya masih bisa merasakan bebatuan tajam saat saya melangkah di atasnya. Lalu sepatu Summit Unknown ini termasuk cepat mengeluarkan air, misalnya ketika terpaksa menyeberangi sungai. Bisa jadi air keluar melalui lubang-lubang tempat rock plate berada.

Performa & kenyamanan

Pengalaman lari pertama kali dengan Summit Unknown ini adalah trail hore sejauh 15km yang rutenya teknikal alias susah dibawa lari. Saat itu kaki saya masih ‘berkenalan’ dengan sepatu ini. Sehingga sering kejadian di mana kaki saya hampir terkilir karena salah menjejak.

Di kesempatan lari trail terakhir pada event SHTR 32K, saya bersyukur sudah bisa lebih menyatu dengan Summit Unknown ini. Segala bentuk rute, menanjak, menurun, tanah, batu, pasir, rumput, bisa dilalui tanpa masalah yang berarti. Ada satu segmen rolling downhill di mana saya bisa berlari jauh dengan cepat. Rasanya pede dan menyenangkan sekali berlari dengan Summit Unknown saat itu.

Kenyamanan sepatu ini memang berkurang saat bertemu aspal dan jalan bebatuan. Tapi tidak ada yang lebih menyebalkan saat harus berlari di atas beton.

Lidah sepatu yang kurang panjang juga cukup perlu diperhatikan. Setelah lama berlari, lidah ini sering merosot ke dalam. Akibatnya, ankle bagian depan kaki saya bertemu langsung dengan tali sepatu. Memang saat lari tidak terasa, namun pasca lari ternyata terasa nyeri untuk beberapa hari. Untuk menyiasati hal ini, saya rekomendasikan menggunakan kaus kaki yang agak tebal dengan tinggi di atas mata kaki.


Kesimpulan

Berdasarkan pengalaman total 50km berlari pakai New Balance Summit Unknown, maka saya bisa merekomendasikan sepatu trail ini untuk kondisi berikut:

  1. Kaki yang tidak lebar tapi supinate / under pronation.
  2. Lebih menyukai sepatu lari yang ringan.
  3. Untuk pelari trail rekreasional, saran penggunaan dalam 1x sesi maksimal 50 km. Lebih dari itu mungkin kaki Anda sudah jadi pisang kipas.

Dengan harga SRP Rp999.000, menurut saya Summit Unknown ini layak untuk dipertimbangkan.

Jika Anda tertarik dengan Summit Unknown ini, saya tetap menyarankan Anda untuk datang langsung ke toko New Balance atau outlet penjualan lainnya, lalu coba dulu di kaki Anda sendiri.

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.