1 Bulan Kemudian: Daihatsu Terios TX AT 2013

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya tentang impresi test drive Daihatsu Terios. Bedanya kali ini berupa review berdasarkan pemakaian selama kurang lebih 1 bulan ke belakang. Sekaligus saya memperkenalkan kategori baru penulisan review: “1 Bulan Kemudian”.

Terus terang ada impresi yang berubah setelah pemakaian lebih lama. Selain penggunaan keluarga di weekend dan mengantar anak sekolah ke PAUD dua kali seminggu lalu lanjut ke kantor, belum lama ini Teriosnya diajak mengurangi masa inreyen ke Bandung. Kebetulan ada acara kawinan sepupu, jadinya cocok untuk ajang test bawa banyak barang.

Supaya tulisannya ngga ngelantur, saya coba tulis dalam bentuk poin-poin. Lalu point of reference-nya adalah artikel impresi sebelumnya. Poin-poin terakhir adalah catatan baru saya yang sebelumnya tidak teramati saat terst drive. Mudah-mudahan cukup mudah untuk diikuti.

 

1. TX AT, bukan TS Extra AT

Ya, awalnya memang booking TS Extra AT. Beruntung sponsor mau nambahin dana supaya bisa naik kelas ke TX AT. Kebetulan waktu test drive pakai TX AT juga. Secara feel saya yakin ngga akan berbeda jauh. Tapi ada beberapa fitur yang memang saya incar untuk kenyamanan sebagai mobil keluarga. Kenapa ngga sekalian TX AT Adventure? Karena kemahalan. :)

 

2. Kesenyapan kabin

Tidak banyak berbeda dengan waktu test drive. Suara mesin tetap tidak mengganggu ke dalam kabin. Bahkan kadang saya masih suka cek, “Ini mesinnya nyala atau ngga sih?”. Namun yang harus dipastikan adalah tutup pintu dengan benar. Sebab kalau kurang rapat, suara angin yang bocor ke dalam kabin bisa sangat mengganggu kenyamanan.

 

3. Penggunaan dalam kota

Untuk pemakaian dalam kota, saya merasa Terios ini sudah masuk kategori sangat cukup. Dengan kemacetan Jakarta sekarang ini, rata-rata laju cuma bisa antara 10 – 40 kpj. Jelas tidak optimal dan berujung boros. Meski tingkat konsumsi BBM antar kendaraan beda-beda, dalam kasus ini faktornya lebih ke eksternal, bukan dari internal mobilnya. Jadi masih sesuai ekspektasi setelah test drive dahulu.

 

4. Performa di perkotaan

Saat test drive, saya pernah coba injak gas lebih dalam.. dan berujung percuma. Hehehe.. Di artikel ini saya wajib mengoreksi impresi tersebut. Sebab ada faktor di mana saya adalah newbie dalam mengendarai mobil AT. Benar kata teman saya, “Yang penting kaki kanannya disekolahin”. Di dalam kota, saat kondisi sudah sepi (jam pulang lembur), Terios ini cukup mudah meraih 60 kpj selama teknik menginjak gasnya sudah baik.

5. Electric Power Steering (EPS)

Jika sebelumnya saya merasa EPS di Terios ini terlalu enteng, setelah satu bulan impresi saya hanya berubah sedikit. Kemungkinan karena ban di Terios TX AT saya masih baru, jadi ada bisa sedikit lebih menghambat ringannya power steering.

 

6. Gejala limbung

Sudah kodratnya mobil tinggi untuk punya body roll yang cukup bisa bikin sport jantung ataupun bikin penumpang mual. Terios ini pun tidak luput dari gejala body roll ini. Cara mengakalinya bisa pakai stabilizer, strut bar, dll. Nah.. yang perlu dipahami mengenai part-part tersebut adalah give and take, atau dengan kata lain perbaikan di satu sisi akan mengorbankan sisi lainnya.

Menurut testimonial yang saya baca dari para pengguna stabilizer, strut bar, dll., gejala limbung memang berkurang tapi kaki-kaki jadi lebih rigid. Bantingan akibat melibas lubang atau jalan keriting pun jadi berasa lebih keras. Jadi solusinya gimana dong? Ya pakai aja Teriosnya dengan wajar dan sesuai kondisi jalanan yang sering dilalui.

Sebagai mobil keluarga yang penggunaannya lebih banyak di kondisi perkotaan, suspensi Terios ini sudah cukup memadai, cukup nyaman, bahkan hingga para penumpang bisa tertidur pulas di perjalanan.

 

7. Jalanan rusak

Salah satu efek mengendarai SUV adalah mendadak berjiwa adventure. Ground clearance yang tinggi membuat Terios ini unggul dari para kompetitor di daftar pilihan saya.

Kebetulan salah satu jalan akses menuju tempat tinggal saya saat ini jalanannya rusak cukup parah. Dengan laju yang perlahan dan terkontrol, Terios bisa melewatinya dengan mudah. Bukannya was-was, malah berasa pede melibas jalan tersebut tanpa harus terlalu pusing memilih jalur yang paling aman dari mentok.

Tingginya ground clearance ini sangat terlihat saat Terios saya bawa untuk cuci steam. CRV ayng kebetulan sedang dicuci juga di sampingnya memang terlihat lebih grand, tapi untuk ground clearance seperti masih kalah tinggi. Terios? Kalah mewah. Hahaha!

 

8. Jalan menanjak & menurun

Sebagai warga Jakarta, tentu tidak asing dengan parkiran mall yang menanjak tinggi ataupun berbentuk spiral. Khususnya pada saat menanjak di ramp spiral, saya lebih suka mengoper persneling ke angka 2. Tenaga Terios sangat terasa dan perjalanan di ramp menuju lantai P8 pun bisa dilalui dengan mudah.

Saat perjalanan turun, terus terang saya masih terbayang berita-berita kecelakaan mobil di mall. Jadi saya pun ekstra hati-hati saat turun. Awalnya persneling di posisi D, tapi buat saya masih agak ngeri untuk menahan laju hanya dengan rem. Apalagi sedang bawa anak, istri & anak orang (pengasuh), tanggung jawab saya jadi lebih besar lagi. Akhirnya saya coba turunkan persneling ke posisi 3.. masih terasa kurang membantu. Turun ke posisi 2.. sudah agak lumayan. Test posisi terbawah (L), di mana engine brake paling terasa. Efek sampingnya, suara v-belt terdengar nyaring. Untungnya hanya suara, tidak ada asap ataupun bau.

Saya sempat diskusi kecil di salah satu forum mengenai bunyi nyaring ini. Menurut salah satu member di sana, hal ini adalah wajar. Dan jika memang menginginkan safety yang ekstra, posisi 2 atau L adalah langkah yang tepat.

 

9. Kapasitas barang

Kursi baris ke-3 yang dilipat penuh dapat membuka ruang untuk menyimpan barang di area boot. Untuk selera saya sih, boot sebesar ini masih kurang lega dan leluasa. Maklum terbiasa sama Innova. Perbandingan yang memang tidak fair, tapi it is what it is.

Tapi istri saya justru memuji Terios kami. Menurut dia, barang yang kami bawa itu sudah banyak sekali. Satu koper pakaian ukuran sedang, beberapa suvenir kawinan yang dititipkan, beberapa set sepatu, satu tas besar popok bayi, 2 tas laptop ukuran besar, 2 box karton berisi bersediaan makanan dan minuman, beberapa kantong pakaian titipan, dan lebih dari 10 gantungan baju lengkap dengan kemeja, batik, baju seragam panitia kawinan, celana panjang, beskap, jas tutup, dll. Saya sampai kesulitan melihat ke belakang dari spion tengah.

 

10. Performa di jalan tol

Seperti yang saya tulis sebelumnya, Terios saya sempat dibawa ke Bandung. Tentu perjalanan tercepat adalah lewat tol Cipularang. Selama perjalanan, saya menjaga Terios agar cruising di 80 – 90 kpj. Untuk pengemudi yang belum banyak pengalaman seperti saya, kecepatan tersebut memang bagus untuk bisa menjaga konsentrasi. Kondisi Terios saat itu diisi oleh saya, mertua, istri dan anak. Sementara bagian boot diisi oleh banyak barang.

Yang saya catat, jika kecepatan menurun dari 80 kpj, Terios TX AT butuh ekstra effort untuk kembali ke 80 kpj. Artinya saya harus mengambil risiko konsumsi BBM jadi lebih boros karena saya harus keluar dari pakem eco driving. Karena itu saya jadi lebih sering pakai persneling di posisi 3, lalu pindah ke D saat RPM sudah bisa cukup stabil di angka 3000.

Sekali waktu saya harus mengoper ke posisi 2 untuk meninggalkan mobil menyebalkan di belakang yang memberi lampu dim terus menerus. Di posisi ini, dengan pedal gas yang diinjak dalam, sensasinya seperti mobil manual. Seolah-olah ada overdrive yang diputus otomatis oleh sistem transmisi. Tentunya saya tidak lupa untuk pindah ke posisi 3, dan diakhiri posisi D setelah bisa mencapai jarak dan kecepatan yang saya inginkan.

Saya juga merasakan seperti ada performance boost saat menginjak gas lebih dalam dengan persneling di posisi D. Menyenangkan sekali rasanya. Meski begitu, saya hanya melakukan hal-hal di atas sesekali saja, karena preferensi saya adalah eco driving. Maka yang saya kejar adalah mengirit konsumsi BBM sebaik mungkin.

Satu hal yang saya catat, efek fun baru benar-benar mulai terasa oleh saya saat speedometer Terios menyentuh angka 100 kpj. Beda sekali sensasinya. Tapi yang ini saya simpan untuk dicoba di lain kesempatan yang lebih memungkinkan dan lebih safe.

 

Demikian beberapa catatan yang bisa saya tuliskan. Sejujurnya, Terios TX AT ini bukanlah mobil yang sempurna, tapi untuk saat ini merupakan mobil yang sudah cukup untuk kebutuhan keluarga saya. Dan yang terpenting, sejauh ini belum mengecewakan.

Jika Anda punya pertanyaan, pendapat, atau pemikiran tentang Terios, silahkan tulis di comment. Dengan senang hati saya akan menjawabnya. :)

 

22 thoughts on “1 Bulan Kemudian: Daihatsu Terios TX AT 2013

  1. pak gimana caranya drive yang benar terios matic,selama perjalanan, kalo posisi di D terus apakah boros bensin? APA BEDANYA DENGAN YG MANUAL d3,d2.kalo manual biasakan gigi 1,trus 2 dst,kalo matic bagaimana?????

  2. Terrios saya tx at pd km 20ribu serbice di dealer daihatsu dan diganti busi baru ternyata jadi boros duel jadi 1:6 sebelumnya 1:10. Sy coba ganti busi baru lagi masih tetap boros 1:6. Akhitnya minta pasang kembali busi lama bawaan asli terrios saya tsb dan kembali normal fuel 1:10. Kira kira kenapa ya apakah ECU harus direset supaya bisa membaca busi yg baru? Mohon advise nya terima kasih.

  3. All, mau tanya. saya ada New Terios TS Matic keluaran 2013. dipakai dalam kota untuk kantor ke rumah setiap senin – Jumat. Dulu saya pakai Premium , konsumsinya 1: 6.6 an, sekarang saya pakai Shell SUPER, konsumsi bahan bakar awalnya 1: 7,2 , tapi lama kelamaan kok balik ke 1:6,5 an ya? Apa karena dalam kota lumayan macet jadinya bisa separah itu? Udah pernah di servis di daihatsu daan mogot waktu servis 10.000km walaupun pemakaian saya masih 7000km, katanya kemungkinan saringan angin, setelah diganti tetap aja tidak berubah.
    Yang mau saya tanyakan: Apa karena dalam kota lumayan macet jadinya bisa separah itu?
    Ada yang pernah mengalami hal sama ? Thanks all.

    1. Info tambahan. jarak kantor rumah saya sekitar 11km. Rumah di jakarta barat, kantor jakarta pusat. Biasa kalo macet ditempuh dalam waktu 1,5 jam an.

      1. Halo mas Adrian,

        Banyak faktor yang bisa bikin kendaraan jadi boros. Paling umum adalah soal gas-rem-gas-rem yang lumrah kalau lagi macet, apalagi macet peak hour-nya Jakarta. Sepengalaman saya, kendaraan apa pun paling irit kalau bisa dpat kecepatan yang konstan. Faktor lain yang sering muncul antara lain:

        – Kualitas bahan bakar.
        SPBU merek apa pun kalau tangki penyimpanannya udah ngga bagus, otomatis BBM-nya ikut ngga bagus.

        – Kondisi oli.
        Oli yang udah jelek bikin tarikan jadi berat. Ujung-ujungnya kaki kita jadi ikut “menyesuaikan”. Seringnya sih jadi boros.

        – Setingan perbandingan udara dan BBM.
        Yang ini tergantung mekanik. Bengkel resmi, beda SA, beda mekanik, beda juga cara menangani mobil meski sudah ada guide dari pabrikan. Contohnya, terakhir saya service, dikasih pilihan mau pakai oli yang mana. Dia pun kasih saya rekomendasi oli yang terbaik dari pilihan itu. Semuanya resmi dan ga bikin hangus garansi. Artinya, guide pabrikan ya hanya guide. jangan lebih dari x, jangan kurang dari x, pakai merek x, dsb.

        – Terakhir, kondisi ban.
        Pakai ban lebar, bisa lebih boros. Ban kurang angin juga bikin tapak ban yang di bawah ikut melebar. Jadi boros karena bidang yang bergesekan dengan aspal jadi lebih besar dan butuh tenaga ekstra untuk membuat mobil melaju.

        Hanya sebatas itu yang saya tau, mas. Mudah-mudahan permasalahannya bisa segera teratasi ya. :)

    1. saya ngga ada bayangan sama sekali. terios saya sih masih suka berasa enteng setirnya sampe sekarang. mungkin bisa ditanya ke service advisornya nanti pas servis 1000km. siapa tau memang ada penyesuaian dari model 2013.

  4. Mas..untuk suara ac blower gimana ya? Punya saya tx at 2014 kalo ac belakang dihidupin suara blowernya kok kenceng ya..kalo suara mesin malah gak kedengaran dari dalam..

    1. blowernya diset ke angka berapa? kalo di mobil saya sampe angka 2 masih ga ganggu suara blowernya. di panel depan, saya atur blower ke angka 1 dan temperatur di posisi jam 9 (max posisi jam 12).

    1. dear mas/mba esoelistiyo,

      menurut saya cukup baik selama sesuai dengan kebutuhan utamanya. misalnya saya yg memang kebutuhan utamanya mobil dengan ground clearance tinggi menimbang jalanan menuju tempat tinggal sering rusak para dan sering banjir. segala kekurangan lainnya dari terios ini jadi bisa saya maklumi. bahasa londo-nya mah “i can live with that”.

      semoga tercerahkan ya.

  5. saya juga pengguna terios, punya 2 malah. satu bulan april 2010 dan satunya bulan oktober 2013. keduanya warna putih dan bertitel tx mt, bedanya hanya di airbag dan warna interior. cukup value for money, tangguh, tidak neko-neko dan dikit macho meski benar……kurang mewah dan pelit fitur! seandainya terios ditype tx jg dibekali seat height ajusdter, tilf steering, dan mid……ah…..tentu kepuasannya akan bertambah. Soal keluhan….paling ditanjakan terasa kurang tenaga, pernah diajak kesarangan jawa timur dan seolah berasa berat, beda waktu dimedan serupa dengan mengendarai ertiga gx. Terus pernah waktu km baru kurang dari 1500, lampu jauhnya dibagian mika gosong meleleh padahal waktu itu hanya dipakai berkendara selama 2jam-an dan seberapa sering sih menggunakan lampu jauh?, untung bisa claim dan beres, cuma penasarannya; KENAPA??? Belum ada jawaban dari pihak bengkel, juga head unitnya bermasalah. GPS nggak mau loading map, claim lagi dan untungnya juga diganti baru. Betapapun, masih masuk akal koq bersama Terios makanya saya punya 2.

    1. saya punya tipe tx ada seat height adjusternya kok, mas. modelnya putar, bukan tuas.

      untuk tanjakan, karena punya saya yg matic, jadi biasanya saya oper ke 3 biar ada tenaganya dikit. kalo masih boyo, oper lagi ke 2 plus kick down. bensin ngocor, dompet nangis. hehehe..

      mengenai kesialan lainnya, sepertinya itu memang lagi sial aja, mas. untungnya bisa diclaim. :)

Your comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s